About

Idik Saeful Bahri mengucapkan selamat datang dan selamat mencari inspirasi di Blog-blog yang sudah menjadi bagian dari blog Idikms. Jangan sungkan untuk memberikan kontribusi dan kritik, serta jangan bosan untuk kembali mampir disini.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

DIX VUL RY

DIX VUL RY

Kamis, 29 Januari 2015

SUDAH SAATNYA SUPORTER BERSATU UNTUK INDONESIA


Bagi anda yang masih anak-anak, penulis tidak menganjurkan membaca artikel ini, karena penulis yakin yang masih bocah fanatiknya terhadap klub hanyalah fanatik kampungan. Atau bagi anda yang masih pelajar SMP atau SMA "yang daya intelektualnya rendah", penulis juga tidak mengharapkan untuk membaca artikel ini, sungguh membuang-buang waktu. Artikel ini  hanya boleh dibaca oleh mereka yang berpendidikan. Pelajar dan Mahasiswa yang memang memiliki segi objektivitas, atau bagi anda yang memang pemikirannya masih jernih.
Pernah tau peta perpolitikan di dunia gak? Bagi anda yang mahasiswa Ilmu Politik dan Ilmu Hukum, penulis yakin punya gambaran yang jelas.
Setidaknya ada dua kubu atau blok di dunia ini, yaitu Blok Barat yang dikomandoi oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dikepalai oleh Rusia. Kedua kubu ini bahkan hingga saat ini selalu bersitegang dan selalu merebut peran di Dewan Keamanan PBB.
Negara-negara maju manapun di dunia ini, pasti tidak akan bisa menghindari persekutuan diantara keduanya, kalau tidak Blok Barat, berarti Blok Timur. Makanya mengapa negeri kita Indonesia berada di Blok netral atau Non-Blok? Karena negara kita masih dikategorikan negara berkembang, belum maju. Yang artinya, politik Indonesia di dunia masih disepelekan. Kemampuan perang kita tidak terlalu di takuti oleh kedua Blok tersebut. Andaikan saja negeri ini menjadi negara maju, apakah Amerika Serikat dan Rusia akan diam begitu saja? Tentu saja tidak, keduanya akan berusaha membujuk Indonesia untuk bergabung dengan mereka. Dan Indonesia wajib hukumnya untuk menentukan sikap, Blok Barat atau Timur. Atau kalau tidak, Indonesia akan diserang oleh kedua kubu. Sungguh tidak mungkin sebuah negara maju tidak pro terhadap salah satu Blok, walau secara formal tidak bergabung dengan salah satu kubu, tapi negara tersebut pasti memiliki sikap untuk mendukung salah satu Blok.
Ternyata peta politik ini bisa kita konversikan ke dalam kehidupan suporter di Indonesia. Ada dua kubu atau aliansi suporter di Indonesia, yaitu kubu Viking Persib dengan kubu The Jak Persija. Keduanya memiliki sekutu masing-masing, Viking memiliki sekutu besarnya yaitu Bonek Persebaya, sedangkan The Jak memiliki sekutu barunya yaitu Aremania. Tahukah anda, sekecil apapun kelompok suporter di Indonesia pasti memiliki sikap untuk mendukung salah satu kubu? Apalagi kalau suporter tersebut lumayan besar, pasti akan bergabung di antara dua kubu tersebut, kecuali suporter-suporter di luar pulau Jawa yang jarang mengalami gesekan. Suporter-suporter di pulau Jawa kebanyakan pasti memiliki sikap untuk berafiliasi diantara dua kubu.
Penulis ambil contoh. Di Yogyakarta ada 3 klub inti, PSIM (Jogja Kota), PSS (Sleman), Persiba (Bantul). Suporter ketiganya saling bermusuhan. Penulis contohkan suporter PSIM dan PSS saja. Suporter PSIM bernama Brajamusti dan suporter PSS adalah Slemania. Keduanya bermusuhan. Dan tahukan anda ternyata keduanya sudah memiliki sikap untuk bergabung diantara dua kubu? Ya. Brajamusti memiliki sikap pro terhadap Viking Persib Club, sedangkan Slemania lebih terbuka dengan The Jakmania. Yang artinya, jika anda ke kawasan Sleman kota dengan menggunakan atribut Persib, anda berada dalam masalah. Pun sebaliknya, anda The Jakmania menggunakan atribut Persija ke Jogja Kota dan terlihat oleh anak-anak Brajamusti, penulis tidak menjamin keselamatan anda. 
Banyak pengamat bola menyesalkan permusuhan suporter di Indonesia yang terkesan diluar kendali. Berbeda dengan suporter-suporter di Eropa yang sudah dewasa, di Indonesia sendiri dianggap jauh dari kesan dewasa, seperti ke-kanak-kanakan. Suporter di Eropa hanya bermusuhan (maksudnya saling bersaing) di dalam stadion, paling parah mungkin saling ejek di media sosial. Kalaupun ada kerusuhan, itu hanya bersifat sementara (hanya untuk beberapa musim) dan bisa dikendalikan oleh pihak keamanan setempat. Di Indonesia, ternyata permusuhan itu membawa-bawa ras, daerah, plat nomor segala macam. Sungguh ke kanak-kanakan.
Permusuhan antar suporter ini sudah sangat mengakar dan meluas, tidak bisa didamaikan hanya dengan peran polisi saja. Banyak pertanyaan muncul, kapan suporter-suporter di Indonesia ini bisa berdamai?
Agak susah memang menjawabnya, karena sudah beberapa kali upaya pendamaian antara kedua kubu (khususnya Viking dan The Jak), tapi selalu gagal. Dari mulai pembuatan film Romeo dan Juliet (yang kalau menurut penulis film itu justru memperuncing pertikaian keduanya), upaya kepolisian, dan lain sebagainya. 
Tapi penulis mencoba dengan kepala jernih untuk memberikan jawaban. Perdamaian antar suporter di Indonesia dapat segera terwujud manakala:
1. Timnas Indonesia dapat dibanggakan di kancah dunia
Penulis yakin poin ini tidak harus dijelaskan panjang lebar. Andaikan saja Timnas Indonesia masuk Piala Dunia misalkan, maka suporter-suporter di Indonesia akan lebih bangga di sebut suporter Garuda daripada suporter klub-nya.
2. Viking-The Jak dan Bonek-Arema berdamai
Hal ini harus penulis pertegas, bahwa akar mula perpecahan suporter di Indonesia semakin meluas adalah akibat dari egoisme ke-4 suporter ini. Ke-4 nya saling membanggakan tim-nya secara berlebihan, walau sebenarnya jika dibandingkan dengan klub-klub Eropa masih jauh tertinggal. Ke-4 nya memiliki basis pendukung yang sangat banyak. Menyebar di seluruh negeri. Ke-4 suporter ini bagaikan Dewan Keamanan PBB yang terbagi menjadi 2 kubu, Amerika-Inggris-Perancis di satu kubu, Rusia Cina di kubu yang lainnya.
Sudah banyak korban jiwa berjatuhan gara-gara beda warna. Sudah banyak kerugian finansial berupa kerusakan mobil, kerugian PT. KAI karena keretanya di lempari batu, dan banyak kerugian-kerugian yang lain. Dan anehnya Presiden di setiap massa dari semenjak reformasi berjalan, tidak ada satu pun yang menaruh minat terhadap pertikaian suporter. Pertikaian suporter bagaikan pertikaian Geng Motor di Jawa Barat.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seluruh elemen masyarakat, elemen pemerintahan, aparat kepolisian, sama-sama bersatu untuk memperluas perdamaian di kalangan suporter. Jangan sampai pertikaian ini terus berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya. Apa memang benat anak cucu kita yang memulai pertikaian? Jelas bukan. Kitalah yang egois, yang terus membudayakan permusuhan tidak penting ini terus berlanjut.

Ditulis oleh Idik Saeful Bahri (@idikms)

KEKECEWAAN VIKING YOGYAKARTA

 

Final Inter Island Cup (IIC) memang menjadi pertandingan yang membuktikan bahwa PSSI wajib di revolusi. Mengapa tidak, pertandingan yang seharusnya di laksanakan pada akhir tahun 2013 yang lalu harus molor hingga masuk di awal tahun 2015. Pertandingan yang mempertemukan dua klub berwarna biru ini, yaitu Persib Bandung (Sang Juara ISL 2014) dan Arema Crounus yang beberapa hari yang lalu menjuarai Surya Citra Media Cup akan sangat dinantikan oleh jagad sepak bola tanah air.
Dua klub ini sama-sama memiliki kemampuan untuk memenangkan pertandingan yang akan digelar 1 Februari 2015 di Stadion Jakabaring Palembang. Tapi kali ini penulis tidak akan membahas mengenai skema pertandingan, tapi lebih ke kekecewaan yang dialami oleh beberapa kelompok suporter Persib yang sebelumnya menyangka pertandingan ini akan dilaksanakan di Yogyakarta.
Pertandingan Final ini seharusnya dilaksanakan pada Desember 2013 yang lalu, yang kemudian di undur oleh pihak PSSI ke Januari 2014. Lagi-lagi PSSI tidak konsisten, pertandingan ini kembali ditunda hingga Maret 2014.
Dan penulis tidak habis pikir, PSSI kembali mencabut ucapannya. Di awal Januari kemarin, mereka mengatakan bahwa pertandingan final Inter Island Cup akan dilaksanakan pada 27 Januari 2015 di Stadion Sultan Agung Bantul Yogyakarta.
Awalnya penulis sangat kecewa dengan sikap PSSI, tapi rasa kecewa itu akhirnya lebur ketika mengetahui bahwa Persib tercinta akan main di Yogyakarta. Daerah yang saat ini menjadi tempat penulis menuntut ilmu.
Tidak tanggung-tanggung memang. Bobotoh yang baru saja kemarin merayakan kemenangan dengan menjuarai ISL 2014 dan Piala Wali Kota Padang akan benar-benar menginvasi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penulis memiliki keyakinan seluruh Daerah Istimewa akan membiru, biru yang hanya Bobotoh, meskipun beberapa diantaranya akan bercampur dengan biru Arema. Tapi jumlah Bobotoh akan berkali-kali lipat dari jumlah Aremania yang akan datang ke Yogyakarta.
Bobotoh benar-benar sudah mempersiapkan momen ini. Beberapa kelompok pendukung Persib, salah satunya Viking Persib Club akan mengirimkan banyak distrik-nya untuk membirukan Yogyakarta. Distrik-distrik Viking di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan ikut meramaikan pertandingan tersebut. Bahkan penulis mendapatkan kabar dari teman penulis di Cirebon, bahwa Viking Cirebon (yang lumayan jauh) akan mengirimkan 3 bus untuk menginvasi Yogyakarta. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang memang tidak bisa penulis sebutkan satu-satu disini.
Tapi intinya, pertandingan Persib Bandung dan Arema Crounus di Yogyakarta akan membuktikan bahwa Bobotoh adalah suporter terfanatik dan terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.
Tapi kegembiraan itu lenyap begitu saja ketika PSSI kembali mengubah jadwal pertandingan menjadi tanggal 1 Februari 2015. Penulis menyadari, pengunduran jadwal ini dikarenakan Arema Crounus sedang menjalani pertandingan pra-musim SCM Cup. Tapi yang membuat penulis dan tentunya seluruh member Viking Yogyakarta kecewa adalah pemindahan tempat pertandingan yang sebelumnya di Yogyakarta beralih ke Stadion Jakabaring Palembang.
Penulis juga menyadari, apa yang dilakukan PSSI semata-mata untuk menghindari gesekan konflik antara Bobotoh dengan Aremania. Tapi keputusan ini benar-benar mengecewakan bagi Bobotoh di Yogyakarta.
Sudah berapa artikel yang penulis tulis, bahwa sebenarnya Viking dan Aremania tidak memiliki masalah yang jelas, keduanya hanyalah korban dari persekutuan suporter. Keduanya menjadi musuh hanya karena nyanyian yel-yel yang rasis. Meskipun penulis menyadari pernah beberapa kali keduanya terlibat bentrok, tapi bentrok yang terjadi lebih disebabkan karena keduanya sudah bermusuhan hanya karena yel-yel nyanyian. Untuk lebih jelasnya penulis anjurkan anda untuk membaca VIKING AREMANIA HANYALAH RIVAL.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya jalinan tangan antara kedua suporter, agar permusuhan yang seharusnya tidak terjadi ini benar-benar tidak merugikan tim.


Ditulis oleh Idik Saeful Bahri (@idikms)

ANALISIS MENGENAI NAMA ASLI SUPORTER PERSIB

Banyak mungkin dari kita yang mempertanyakan nama resmi dari suporter klub asal kota Bandung, Persib, yang merupakan suporter terbesar dan terfanatik di Indonesia. Pasalnya, penyebutan nama suporter Persib terkesan sangat membingungkan, tidak seperti nama suporter lain yang hanya satu, misalnya suporter Persija dengan The Jakmania, Persebaya dengan Bonek Mania, atau Arema dengan Aremania. Untuk suporter Persib, ternyata tidak semudah itu. Harus ada kajian sejarah untuk menentukan nama mana yang menjadi ikon paling penting dalam penyebutan suporter Persib Bandung.
                Setidaknya ada beberapa nama yang menjadi basis pendukung Persib, yaitu Bobotoh, Balad Persib, Viking Persib Club, Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), Hooligan Persib, Jurig Persib, Flower City Casuals, Baraya, dan Ultras Persib. Mungkin ada beberapa nama yang tidak penulis sampaikan disini, karena subjek pendukung Persib yang begitu luas, mencakup 2 provinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Banten dengan jumlah penduduk hampir dua per lima dari penduduk Indonesia saat ini. Penulis menyampaikan maaf jika ada kelompok tertentu yang mendukung Persib dengan nama selain yang penulis sampaikan, karena keterbatasan penulis dalam menganalisa secara detail. Tapi penulis bisa menjamin, bahwa nama-nama di atas, merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi bagi para pendukung Persib, antara satu dengan yang lainnya mengakui keberadaan mereka. Adapun selain yang penulis tulis, kalaupun ada, pasti hanya bersifat lokal dan kedaerahan dan jumlahnya tidak lebih dari 1.000 massa.
               Sebelum masuk ke analisa, penulis menyampaikan bahwa analisa ini didasarkan pada sumber-sumber web yang bisa dipercaya. Bukan dari buku atau referensi yang lain, karena sampai saat ini (sejauh pengetahuan penulis), belum ada yang menuliskan sejarah suporter Persib dalam bentuk buku, dan ini menyulitkan penulis dalam menentukan dengan cermat. Tapi kalaupun hanya bersumber dari web, penulis tidak sedikitpun mengurangi rasa profesional penulis dalam menganalisa.
              Jika kita mulai dari sejarah, sebenarnya nama suporter pertama Persib Bandung adalah Bobotoh. Hal ini bisa kita lihat dari sumber kata yang digunakan. Menurut Kamus Umum Basa Sunda, yang diterbitkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, Bobotoh berarti purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten (yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba). Atau dengan sumber lain mengatakan bahwa Bobotoh memiliki arti “orang-orang yang mendorong atau membangun semangat bagi orang lain”.[i]
              Sudah bisa kita tebak sebenarnya, bahwa para pendahulu pendukung Persib Bandung selalu menggunakan istilah Bobotoh bagi diri mereka sendiri. Hal ini juga dibuktikan jika kita bertanya kepada orang-orang tua di Jawa Barat dan Banten yang masih hidup tentang suporter Persib, jawaban mereka pasti akan mengarah dan mengenali Bobotoh, dibandingkan dengan nama yang lainnya. Bahkan banyak dari orang tua di Jawa Barat dan Banten yang mungkin tidak tahu apa itu Viking, Bomber dan yang lainnya, karena mereka hanya mengenal istilah Bobotoh, dan selain nama Bobotoh, semuanya muncul belasan atau bahkan puluhan tahun setelah Bobotoh resmi diklaim oleh pendukung pertama Persib.
               Kemudian kita masuk ke fase Balad Persib. Tidak ada catatan yang jelas tentang keberadaan kelompok ini, hanya saja kelompok ini diyakini keberadaannya di zaman terdahulu, dan diklaim sebagai basis pendukung Persib terbesar di masanya. Hal ini terlihat jika kita search sejarah permusuhan antara pendukung Persib dengan pendukung Persija, kebanyakan sumber justru mengklaim bahwa penyebab permusuhan keduanya adalah Balad Persib yang bertandang ke Jakarta. Memang tidak bisa kita vonis bahwa data ini yang paling benar, karena versi lain menyebutkan bahwa penyebab permusuhan keduanya bukan karena hal itu. Tapi yang menjadi catatan penting penulis adalah nama “Balad Persib” dikenal di masa lalu. Hal ini membuktikan bahwa Balad Persib memang ada dan pernah terlahir sebagai bagian dari sejarah suporter Persib, walau sekarang jumlahnya semakin menipis karena pesona kelompok lain yang lebih fanatik. Tapi penulis bisa meyakini, bahwa “Balad Persib” lebih tua dan lebih dahulu keberadaannya dibandingkan Viking, Bomber dan lain sebagainya (kecuali Bobotoh yang sudah kita sepakati menjadi nama pertama suporter Persib).
               Redanya dan mulai padamnya nama “Balad Persib” ini tidak terlepas dari lahirnya kelompok beratas nama Viking Persib Club. Sebelum organisasi dan kelompok suporter  klub di Indonesia mulai menjamur pada akhir 1990-an, Viking Persib Fans Club sudah berkibar. Kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikan diri pada 17 Juli 1993.[ii]
                Selanjutnya penulis akan membahas sebentar tentang kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai Hooligan Persib, Jurig Persib, dan Ultras Persib. Mungkin banyak diantara kita yang menyatakan dengan nada simpel bahwa “ ketiga nama tersebut hanyalah julukan suporter Persib”. Awalnya penulis juga berpikir seperti itu, tapi realitas yang ada tidak demikian. Penulis banyak menyaksikan dengan mata kepala penulis sendiri, bahwa kelompok-kelompok tersebut memang ada. Hal ini pernah penulis tanyakan, ketika penulis tanya diantara mereka, “Apakah kalian kelompok Viking?”, mereka jawab, “Tidak”. "Apakah Bomber? FCC? Balad Persib?”, merekapun menjawab tidak. Mereka mengklaim memiliki kelompok sendiri, walau tidak terorganisir, sama seperti halnya FCC. Hanya saja kelompok-kelompok ini secara luas tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat dan Banten. Dalam satu kota mungkin hanya ada satu kelompok beratas namakan kelompok yang sama. Tidak ada referensi jelas tentang sejarah berdirinya kelompok-kelompok tersebut, hanya saja penulis mengklaim mereka ada dan kebanyakan dari mereka tidak terdaftar di kelompok Viking dan kelompok yang lainnya. Mereka mandiri dan hidup dalam koloninya masing-masing.
                  Adapun Baraya, walau sekarang dianggap sebagai suporter resmi PBR atau Bandung Raya, tapi keberadaan mereka sebagai pendukung Persib tidak bisa dibantah. Baraya yang memang berada di kota Bandung dan berbaur dengan para pendukung Persib, tidak bisa menghilangkan jiwa biru di dalam hatinya. Lagipula, ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa anak-anak Baraya memang dulunya para pendukung Persib.
Kemudian hal lain yang menjadi perhatian penulis adalah gangster (geng motor). Kita ketahui bersama bahwa kota Bandung dijuluki sebagai kota gangster. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kota ini melahirkan sedikitnya 4 gangster terbesar di Indonesia, yaitu Grab on Road (GBR), Exalt to Coitus (XTC), Brigade Seven (BRIGEZ), dan Moonraker (M2R). Dibeberapa pertandingan, kita bisa lihat sendiri ada beberapa bendera gangster yang selalu di bawa oleh para suporter, dan ini menjadi bukti bahwa gangster-gangster di Jawa Barat, mayoritas diantara mereka masih setia mendukung Persib.
                Kelompok lain yang menjadi suporter Persib adalah Flower City Casuals yang berarti pendukung kota kembang. Jelas jika kita lihat dari segi nama saja, kelompok ini hanya memiliki basis di kota Bandung. Makna dari Flowers City Casuals  kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya Inggris, hobi bergaya dengan brand Eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.[iii]
                Dan terakhir yang akan penulis soroti adalah Bomber. Bomber atau Bobotoh Maung Bandung Bersatu mulai dirintis sejak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan Bobotoh telah menyatakan sikap untuk berafiliasi dan akhirnya mendeklarasikan Bomber di hotel Santika Bandung pada tanggal 3 Agustus 2001.[iv] Perlu diketahui, bahwa kelompok Bomber ini yang sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan perluasan wilayah. Banyak kota-kota di Jawa Barat dan Banten yang sudah mulai membuka cabangnya. Tidak ada kemustahilan, Bomber ini akan menggantikan nama-nama atau kepopuleran suporter Persib sebelumnya, mengalahkan kepopuleran Viking misalnya. Penulis bahkan membayangkan jika Bomber terus memperluas kekuasaan, tidak mustahil lagu "Viking Bonek Sama Saja", mungkin bisa menjadi "Bomber Bonek Sama Saja". Siapa yang tahu? Sepuluh tahun mendatang? Dua puluh tahun mendatang? Kita tidak tahu.
                 Dari sini penulis dapat menyimpulkan bahwa nama yang memang paling benar untuk mengungkapkan pendukung Persib secara umum adalah Bobotoh, bukan Viking, Bomber, Balad Persib dan yang lainnya. Logikanya sederhana, setiap Viking, Bomber dan yang lainnya sudah pasti merupakan Bobotoh, tapi tidak semua Bobotoh merupakan bagian dari kelompok-kelompok Viking dan yang lainnya. Tapi bagaimana skema strukturnya? Penulis tidak mengklaim bahwa analisa penulis adalah hal yang paling benar, tapi penulis mencoba menguraikannya dalam gambar berikut.
 


[i] http://id.wikipedia.org/wiki/Bobotoh
[ii] http://www.bola.viva.co.id/news/read/322273-sejarah-lahirnya-viking-persib-fans-club
[iii] http://www.kaskus.co.id/thread/5254ac6bfcca17504f000004/sejarah-berdirinya-quotflower-city-casualquot-fcc
[iv] http://bomberpersib.blogspot.com/p/sejarah.html














Ditulis oleh Idik Saeful Bahri (@idikms)

Jumat, 23 Januari 2015

KANG OHANG -- PERSIB EUY PERSIB

Rabu, 24 Desember 2014

PERSIB AREMA, WE ARE RIVAL, NOT ENEMY




Di negara-negara Eropa yang sudah maju persepakbolaannya serta menjadi kiblat sepak bola dunia, persaingan antar klub memang biasa, bahkan menjadi musuh dan dibudayakan secara turun temurun pun tidak bisa dihindari untuk klub-klub tertentu. Tentu kita tidak aneh mendengar istilah “El-Clasico” yang menjadi persaingan seru dan panas diantara musuh yang setiap tahunnya menjadi kandidat juara. Bahkan panasnya api persaingan antar klub, merembet ke permasalahan suporter, hingga ke luar lapangan. Tidak sedikit meme atau gambar-gambar cacian dari satu suporter terhadap suporter yang lainnya. Hanya saja, permusuhan diantara mereka hanya bersifat abstrak dan tidak sampai terjadi keributan membabi buta (walau di beberapa kasus pernah terjadi kerusuhan besar di Inggris, Argentina, Italia dan beberapa negara lainnya), kalaupun ada keributan, pemerintah setempat dapat menuntaskannya, hingga tidak menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Hal serupa ternyata tidak berlaku di Indonesia. Sikap fanatik yang berlebihan dan terkesan “KAMPUNGAN” sangat jelas dipertontonkan oleh suporter kita di tanah air, yang bahkan (mohon maaf), sepak bola kita tidak terlalu bisa dibanggakan di kancah dunia. Mungkin bahasa sederhananya seperti ini, “Udah mah sepakbolanya tidak bisa dibanggakan, ditambah dengan ulah suporter yang brutal, lengkap sudah kehancuran persepakbolaan kita.”
Permasalahan ini menarik untuk kita kaji. Permusuhan antar suporter di Indonesia sudah sangat menjamur dan terkesan sudah sangat memprihatinkan. Pemerintah tidak memberikan banyak solusi, dan parahnya lagi, entah sudah berapa puluh orang mati sia-sia dari permusuhan antar suporter di Indonesia. Memang iya, pernah ada beberapa mediasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian, tapi sifatnya hanya sementara, tidak kontinu. Akhirnya, beberapa bulan setelah pendeklarasian damai, kerusuhan kembali terjadi.
Yang menambah lucu, ternyata ada istilah saudara antara satu suporter dengan suporter yang lain. Mereka bodoh ternyata. Apa memang sesama anak bangsa bukanlah saudara? Ini tidak masuk akal. Orang Bandung dengan orang Jakarta terpisah hanya gara-gara sepak bola. Orang Malang dengan orang Surabaya saling curiga gara-gara sepakbola. Hanya gara-gara sepakbola.
Ternyata masalahnya tambah runyam, manakala ada satu suporter dengan suporter yang lainnya membentuk sebuah aliansi. Suporter Persib dengan Persebaya membentuk sebuah aliansi persaudaraan yang sangat erat, bahkan lebih erat dari hanya sekedar saudara biasa. Dari aliansi ini, tentu saja akan menambah ruwet masalah yang ada. Bukan penulis bermaksud menyinggung persaudaraan suporter Persib-Persebaya (penulis juga suporter Persib), hanya saja beberapa oknum terlalu bodoh menafsirkan situasi ini. Yang akhirnya, arek-arek Malang yang memiliki musuh arek-arek Suroboyo, justru membentuk aliansi tersendiri dengan suporter Persija yang notabennya merupakan musuh suporter Persib. Dari sinilah awal dari permusuhan suporter Persib dengan suporter Arema. Dua kubu ini (Bobotoh dan Aremania) yang sebenarnya tidak terjadi masalah secara serius, bermusuhan karena alasan persaudaraan tadi. Hingga akhirnya terjadi mis-komunikasi diantara keduanya, manakala suporter Persib bertandang ke Malang, Bobotoh diserang, dan ketika Aremania bertandang ke Jakarta, pulangnya mereka di serang di Karawang Jawa Barat.
Pembaca yang budiman, perlu penulis sampaikan terlebih dahulu, bahwa kebanyakan (bisa juga kita sebut mayoritas), suporter rusuh dan yang suka tawuran kebanyakan adalah anak-anak pelajar (SMP atau SMA) yang pemikirannya masih labil. Mereka sedang mencari jati diri. Hal ini bukan tanpa alasan, teman penulis yang satu kampus, satu angkatan dan satu kelas, dia pendukung PSCS Cilacap, meninggal dikeroyok oleh sekitar 9 orang pendukung PSS Sleman. Ketika ditanya oleh pihak polisi, ke-9 orang tersebut masih berstatus sebagai pelajar. Dan ini bukan kasus satu-satunya, setiap kerusuhan, dalang dibalik itu semua pasti pelajar. Penulis himbau, kita sebagai orang yang sudah tinggi levelnya dari hanya sekedar pelajar (dalam kaitan ini penulis sebagai mahasiswa), harus memandang semuanya secara objektif. Bukan hanya disandarkan atas nafsu belaka, dan fanatisme yang terkesan kampungan dan dipaksakan. Fanatisme yang baik bukan mereka yang merusak dan saling serang antara satu dengan yang lainnya, ketika mereka menonton pertandingan tim kesayangannya tanpa membayar tiket serta merusak perlengakapan stadion. Bukan itu makna fanatik. Itu fanatiknya kampungan jika penulis boleh jujur.
Kembali ke topik, sebenarnya Bobotoh dengan Aremania tidak memiliki alasan paling konkret atas permusuhan mereka. Keduanya hanya sebagai korban dari anak-anak yang labil. Ditambah dengan orang-orang dewasa di antara keduanya, terhanyut oleh rayuan anak kecil untuk saling membenci.
Perlu penulis tekankan disini, bahwa tidak semua Bobotoh membenci Aremania, dan penulis pun yakin bahwa tidak semua Aremania membenci Bobotoh. Buktinya apa? Kita mungkin masih ingat pertandingan perempat final di ISL 2014 yang lalu, kita bisa nyanyi-nyanyi bareng, kita bisa duduk rapi dalam satu stadion. Walau memang ada beberapa isu tentang nyanyian-nyanyian yang bernada rasial, tapi setidaknya kita berhasil membangun kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Kita berwarna biru, dan kita bisa membirukan Palembang bersama-sama.
Hal ini pun seharusnya disikapi secara bijak oleh suporter sahabat Bobotoh dan suporter sahabat Aremania. Jangan hanya karena sebuah perdamaian, justru persaudaraan sebelumnya menjadi terpecah belah. Hal ini tentu tidak realistis. Suporter yang bijak adalah suporter yang bisa menyikapi keadaan untuk memberikan kontribusi bagi klubnya. Tidak bermusuhan dengan suporter lain adalah salah satu bentuk kontribusi suporter terhadap klub kesayangannya, karena membuat klub merasa aman pergi bertandang ke kota manapun.
Penulis tidak bermaksud apa-apa dalam menyampaikan isi hati penulis. Bukan pula bentuk ketakutan Bobotoh terhadap Aremania. Penulis yakin pembaca sudah dewasa dan penulis tidak mengharapkan yang membaca tulisan penulis ini adalah anak-anak kecil yang baru terlahir kemarin sore.
Dapat disimpulkan bahwa permusuhan antara Bobotoh dengan Aremania adalah permusuhan yang tidak mendasar sama sekali. Hanya gara-gara perbedaan aliansi, kita serasa musuh yang tidak bisa duduk berdampingan. Kita sudah membuktikannya kawan, kita bisa berdiri di stadion yang sama, Palembang telah menjadi saksi persaudaraan biru kita.
Hanya saja, penulis juga masih pesimis Bobotoh dapat bertandang ke Malang dengan aman dan Aremania dapat bertandang ke Bandung dengan nyaman. Perlu ada keseriusan diantara kedua belah pihak. Penulis menyadari penulis bukan bagian dari pengurus inti di Bobotoh, tugas ini seharusnya dapat disadari oleh para petinggi-petinggi Bobotoh maupun Aremania. Jangan sampai keduanya membiarkan permasalahan ini hingga berlarut-larut. Penulis berharap diantara petinggi-petinggi Bobotoh dan Aremania membaca artikel penulis ini. “Yang Lalu Biarlah Berlalu”, mungkin kata itu perlu kita terapkan. Walau sudah banyak korban, kita tentu tidak menginginkan adanya korban selanjutnya. GENERASI YANG BAIK ADALAH GENERASI YANG TIDAK MEMBERIKAN BEBAN BAGI GENERASI SELANJUTNYA.
Tapi jika pihak Bobotoh dan Aremania serius menyikapi hal ini, serta didukung oleh peran pemerintah dan aparat keamanan, bukan hal yang mustahil, bukan sesuatu yang tidak mungkin, seluruh pulau Jawa akan terlihat membiru secara jelas. Biru adalah warna kehidupan, biru adalah warna alam semesta, BUMI MERUPAKAN PLANET BIRU!.



Ditulis oleh Idik Saeful Bahri (@idikms)

Senin, 22 Desember 2014

ANALISIS MENGENAI NAMA ASLI SUPORTER PERSIB


               Banyak mungkin dari kita yang mempertanyakan nama resmi dari suporter klub asal kota Bandung, Persib, yang merupakan suporter terbesar dan terfanatik di Indonesia. Pasalnya, penyebutan nama suporter Persib terkesan sangat membingungkan, tidak seperti nama suporter lain yang hanya satu, misalnya suporter Persija dengan The Jakmania, Persebaya dengan Bonek Mania, atau Arema dengan Aremania. Untuk suporter Persib, ternyata tidak semudah itu. Harus ada kajian sejarah untuk menentukan nama mana yang menjadi ikon paling penting dalam penyebutan suporter Persib Bandung.
                Setidaknya ada beberapa nama yang menjadi basis pendukung Persib, yaitu Bobotoh, Balad Persib, Viking Persib Club, Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), Hooligan Persib, Jurig Persib, Flower City Casuals, Baraya, dan Ultras Persib. Mungkin ada beberapa nama yang tidak penulis sampaikan disini, karena subjek pendukung Persib yang begitu luas, mencakup 2 provinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Banten dengan jumlah penduduk hampir dua per lima dari penduduk Indonesia saat ini. Penulis menyampaikan maaf jika ada kelompok tertentu yang mendukung Persib dengan nama selain yang penulis sampaikan, karena keterbatasan penulis dalam menganalisa secara detail. Tapi penulis bisa menjamin, bahwa nama-nama di atas, merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi bagi para pendukung Persib, antara satu dengan yang lainnya mengakui keberadaan mereka. Adapun selain yang penulis tulis, kalaupun ada, pasti hanya bersifat lokal dan kedaerahan dan jumlahnya tidak lebih dari 1.000 massa.
               Sebelum masuk ke analisa, penulis menyampaikan bahwa analisa ini didasarkan pada sumber-sumber web yang bisa dipercaya. Bukan dari buku atau referensi yang lain, karena sampai saat ini (sejauh pengetahuan penulis), belum ada yang menuliskan sejarah suporter Persib dalam bentuk buku, dan ini menyulitkan penulis dalam menentukan dengan cermat. Tapi kalaupun hanya bersumber dari web, penulis tidak sedikitpun mengurangi rasa profesional penulis dalam menganalisa.
              Jika kita mulai dari sejarah, sebenarnya nama suporter pertama Persib Bandung adalah Bobotoh. Hal ini bisa kita lihat dari sumber kata yang digunakan. Menurut Kamus Umum Basa Sunda, yang diterbitkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, Bobotoh berarti purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten (yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba). Atau dengan sumber lain mengatakan bahwa Bobotoh memiliki arti “orang-orang yang mendorong atau membangun semangat bagi orang lain”.[i]
              Sudah bisa kita tebak sebenarnya, bahwa para pendahulu pendukung Persib Bandung selalu menggunakan istilah Bobotoh bagi diri mereka sendiri. Hal ini juga dibuktikan jika kita bertanya kepada orang-orang tua di Jawa Barat dan Banten yang masih hidup tentang suporter Persib, jawaban mereka pasti akan mengarah dan mengenali Bobotoh, dibandingkan dengan nama yang lainnya. Bahkan banyak dari orang tua di Jawa Barat dan Banten yang mungkin tidak tahu apa itu Viking, Bomber dan yang lainnya, karena mereka hanya mengenal istilah Bobotoh, dan selain nama Bobotoh, semuanya muncul belasan atau bahkan puluhan tahun setelah Bobotoh resmi diklaim oleh pendukung pertama Persib.
               Kemudian kita masuk ke fase Balad Persib. Tidak ada catatan yang jelas tentang keberadaan kelompok ini, hanya saja kelompok ini diyakini keberadaannya di zaman terdahulu, dan diklaim sebagai basis pendukung Persib terbesar di masanya. Hal ini terlihat jika kita search sejarah permusuhan antara pendukung Persib dengan pendukung Persija, kebanyakan sumber justru mengklaim bahwa penyebab permusuhan keduanya adalah Balad Persib yang bertandang ke Jakarta. Memang tidak bisa kita vonis bahwa data ini yang paling benar, karena versi lain menyebutkan bahwa penyebab permusuhan keduanya bukan karena hal itu. Tapi yang menjadi catatan penting penulis adalah nama “Balad Persib” dikenal di masa lalu. Hal ini membuktikan bahwa Balad Persib memang ada dan pernah terlahir sebagai bagian dari sejarah suporter Persib, walau sekarang jumlahnya semakin menipis karena pesona kelompok lain yang lebih fanatik. Tapi penulis bisa meyakini, bahwa “Balad Persib” lebih tua dan lebih dahulu keberadaannya dibandingkan Viking, Bomber dan lain sebagainya (kecuali Bobotoh yang sudah kita sepakati menjadi nama pertama suporter Persib).
               Redanya dan mulai padamnya nama “Balad Persib” ini tidak terlepas dari lahirnya kelompok beratas nama Viking Persib Club. Sebelum organisasi dan kelompok suporter  klub di Indonesia mulai menjamur pada akhir 1990-an, Viking Persib Fans Club sudah berkibar. Kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikan diri pada 17 Juli 1993.[ii]
                Selanjutnya penulis akan membahas sebentar tentang kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai Hooligan Persib, Jurig Persib, dan Ultras Persib. Mungkin banyak diantara kita yang menyatakan dengan nada simpel bahwa “ ketiga nama tersebut hanyalah julukan suporter Persib”. Awalnya penulis juga berpikir seperti itu, tapi realitas yang ada tidak demikian. Penulis banyak menyaksikan dengan mata kepala penulis sendiri, bahwa kelompok-kelompok tersebut memang ada. Hal ini pernah penulis tanyakan, ketika penulis tanya diantara mereka, “Apakah kalian kelompok Viking?”, mereka jawab, “Tidak”. "Apakah Bomber? FCC? Balad Persib?”, merekapun menjawab tidak. Mereka mengklaim memiliki kelompok sendiri, walau tidak terorganisir, sama seperti halnya FCC. Hanya saja kelompok-kelompok ini secara luas tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat dan Banten. Dalam satu kota mungkin hanya ada satu kelompok beratas namakan kelompok yang sama. Tidak ada referensi jelas tentang sejarah berdirinya kelompok-kelompok tersebut, hanya saja penulis mengklaim mereka ada dan kebanyakan dari mereka tidak terdaftar di kelompok Viking dan kelompok yang lainnya. Mereka mandiri dan hidup dalam koloninya masing-masing.
                  Adapun Baraya, walau sekarang dianggap sebagai suporter resmi PBR atau Bandung Raya, tapi keberadaan mereka sebagai pendukung Persib tidak bisa dibantah. Baraya yang memang berada di kota Bandung dan berbaur dengan para pendukung Persib, tidak bisa menghilangkan jiwa biru di dalam hatinya. Lagipula, ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa anak-anak Baraya memang dulunya para pendukung Persib.
Kemudian hal lain yang menjadi perhatian penulis adalah gangster (geng motor). Kita ketahui bersama bahwa kota Bandung dijuluki sebagai kota gangster. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kota ini melahirkan sedikitnya 4 gangster terbesar di Indonesia, yaitu Grab on Road (GBR), Exalt to Coitus (XTC), Brigade Seven (BRIGEZ), dan Moonraker (M2R). Dibeberapa pertandingan, kita bisa lihat sendiri ada beberapa bendera gangster yang selalu di bawa oleh para suporter, dan ini menjadi bukti bahwa gangster-gangster di Jawa Barat, mayoritas diantara mereka masih setia mendukung Persib.
                Kelompok lain yang menjadi suporter Persib adalah Flower City Casuals yang berarti pendukung kota kembang. Jelas jika kita lihat dari segi nama saja, kelompok ini hanya memiliki basis di kota Bandung. Makna dari Flowers City Casuals  kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya Inggris, hobi bergaya dengan brand Eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.[iii]
                Dan terakhir yang akan penulis soroti adalah Bomber. Bomber atau Bobotoh Maung Bandung Bersatu mulai dirintis sejak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan Bobotoh telah menyatakan sikap untuk berafiliasi dan akhirnya mendeklarasikan Bomber di hotel Santika Bandung pada tanggal 3 Agustus 2001.[iv] Perlu diketahui, bahwa kelompok Bomber ini yang sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan perluasan wilayah. Banyak kota-kota di Jawa Barat dan Banten yang sudah mulai membuka cabangnya. Tidak ada kemustahilan, Bomber ini akan menggantikan nama-nama atau kepopuleran suporter Persib sebelumnya, mengalahkan kepopuleran Viking misalnya. Penulis bahkan membayangkan jika Bomber terus memperluas kekuasaan, tidak mustahil lagu "Viking Bonek Sama Saja", mungkin bisa menjadi "Bomber Bonek Sama Saja". Siapa yang tahu? Sepuluh tahun mendatang? Dua puluh tahun mendatang? Kita tidak tahu.
                 Dari sini penulis dapat menyimpulkan bahwa nama yang memang paling benar untuk mengungkapkan pendukung Persib secara umum adalah Bobotoh, bukan Viking, Bomber, Balad Persib dan yang lainnya. Logikanya sederhana, setiap Viking, Bomber dan yang lainnya sudah pasti merupakan Bobotoh, tapi tidak semua Bobotoh merupakan bagian dari kelompok-kelompok Viking dan yang lainnya. Tapi bagaimana skema strukturnya? Penulis tidak mengklaim bahwa analisa penulis adalah hal yang paling benar, tapi penulis mencoba menguraikannya dalam gambar berikut.

 


[i] http://id.wikipedia.org/wiki/Bobotoh
[ii] http://www.bola.viva.co.id/news/read/322273-sejarah-lahirnya-viking-persib-fans-club
[iii] http://www.kaskus.co.id/thread/5254ac6bfcca17504f000004/sejarah-berdirinya-quotflower-city-casualquot-fcc
[iv] http://bomberpersib.blogspot.com/p/sejarah.html














Ditulis oleh Idik Saeful Bahri (@idikms)






IDIK M S

IDIK M S

Partisipasi Publik

Anda bisa ikut berpartisipasi dalam memberikan sebuah opini, informasi, data yang bisa di download atau apapun itu, dengan mengirimkan melalui E-Mail idikms@gmail.com dengan format:
1. Nama Pengirim
2. Judul Bahan
3. Masukkan alamat Blog yang hendak menampilkan data anda
Sebagai contoh :
Nama Pengirim = Idik Saeful Bahri
Judul Bahan = DOWNLOAD E-BOOK MAHASISWA
Alamat Blog = idikms.blogspot.com, 3kuningan.blogspot.com, dan viking-bobotoh-persib.blogspot.com

IDIK SAEFUL BAHRI

IDIK SAEFUL BAHRI