About

Idik Saeful Bahri mengucapkan selamat datang dan selamat mencari inspirasi di Blog-blog yang sudah menjadi bagian dari blog Idikms. Jangan sungkan untuk memberikan kontribusi dan kritik, serta jangan bosan untuk kembali mampir disini.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

DIX VUL RY

DIX VUL RY

Selasa, 28 April 2015

PERSIB HARUS MEWASPADAI NEW RADIANT

Persib Bandung siap bentrok melawan tuan rumah New Radiant Rabu (29/4) besok di National Stadium Male. Dalam match day ke-5 ini kedua tim berebut 3 sempurna untuk membuka lebar lolos menuju fase knock out (16 besar) ajang AFC Cup. The Blues (julukan New Radiant) siap tempur menghadapi pasukan Maung Bandung yang baru saja menempuh perjalanan jauh Bandung, Indonesia-Male, Maladewa.
Asisten pelatih New Radiant Hasan Hameed merasa yakin anak asuhannya bisa menggondol 3 poin di markas sendiri. Menilik dua pertandingan terakhir mereka konsisten dapatkan poin, diantaranya menahan imbang Ayeyawady United di Yangon dan mendapatkan 3 poin di liga domestik kala menjamu Victory 3-1.
“Jadi kalau melihat 2 pertandingan terakhir, di AFC Myanmar (vs Ayeyawady United) kami bisa mengimbangi permainan mereka. Jadi kami yakin bisa memenangkan pertandingan besok,” ungkap Hasan saat konfrensi pers di National Stadium Male, Selasa (28/4).
Namun tim yang sudah dua kali berganti pelatih di musim ini harus waspada, karena pada pertandingan kandang di AFC terakhir, mereka dipukul telak Ayeyawady United 3-0. Menyoal kekalahan di Bandung pekan pertama pertandingan, Shafiu Ahmed dan kolega banyak melakukan kesalahan karena tidak fokus dan mengalami kelelahan. Sehingga 4 gol pung bersarang di gawang yang dikawal Alisher Akhmedov.
“Kenapa kita kalah di Bandung? karena banyak melakukan kesalahan dan perjalanan panjang berakibat kelelahan. Tetapi sekarang kita bermain di depan pendukung kita harus menang,” ujarnya optimis.
Dalam persiapannya, tim jawara musim lalu Dhivehi League ini sudah berlatih finishing touch. New Radiant mengklaim jika mereka adalah tim yang sukses saat menjalani laga kandang. “Kita sudah latihan shooting, untuk mencetak banyak gol. Kami tim sukses disini dan akan membuktikannya,” cetusnya.

Sumber : www.simamaung.com

PERSIB BATAL UJI COBA LAPANGAN

Menghadapi New Radiant, Rabu (29/4) besok, Persib Bandung gagal menggelar uji coba lapangan di National Stadium Male pada Selasa (28/4) pagi. Hal tersebut lantaran di hari yang sama akan berlangsung pertandingan AFC Cup Grup E antara Maziya Sports (Maladewa) melawan JSW Bengaluru FC (India). Grup E ini tidak lain adalah grup dari wakil Indonesia lainnya, Persipura Jayapura. Tim Mutiara Hitam pun akan menghadapi Warriors FC di Stadion Mandala, Jayapura, sore ini
Tim arahan Emral Abus pun terpaksa harus menjalani latihan di venue lain yang masih tidak jauh dari Kota Male. Pelatih berdarah Minang ini tidak menjadikan hal tersebut sebagai kendala guna meraih target sapu bersih poin kemenangan. Terpenting baginya adalah bagaimana tim bisa menjalani latihan untuk segera mematangkan skema dan strategi yang akan dijalankan skuatnya besok.
Manajer tim Umuh Muchtar pun tidak mempermasalahkan apa yang dialami timnya. Meski tidak mendapatkan jatah uji coba lapangan, ia tidak akan melakukan protes karena jadwal sudah diterapkan oleh pihak AFC. Tim harus menerima resiko dengan memaksimalkan lapangan yang ada.
“Ya enggak apa-apa tidak uji coba di lapangan aslinya. Masih ada lapangan lain. Kita tidak protes atau ngeyel, jalani saja,” tuturnya.

Sumber : www.simamaung.com

UMUH BERHARAP PEMAIN SEGAR BUGAR

Manajer PERSIB Umuh Muchtar berharap pemainnya dapat bugar saat menjalani latihan perdana di markas New Radiant, Selasa (28/4/2015) besok. Hari ini pemain diberi kesempatan untuk beristirahat lebih lama dan hanya melakukan latihan ringan usai perjalanan 12 jam dari Bandung menuju Maladewa.

"Pemain enjoy. Mereka ceria menikmati suasana pantai. Besok baru latihan resmi, semoga mereka fresh," kata Umuh, Senin (27/4/2015).

Satu hari ini, Atep Cs memanfatkan waktu luang dengan bermain voli pantai dan berenang di bibir pantai Resort Fihalhohi Maladewa. Para pemain dan ofisial pagi hari berjalan menyusuri pantai sepanjang resort dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berselfie. "Wah, pemandangannya luar biasa. Tempat ini cocok untuk bulan madu," kata Atep.

Maung Bandung melawat ke Maladewa guna melakoni laga lanjutan Grup H Piala AFC 2015, Rabu (29/4/2015). Pertandingan tersebut adalah pertandingan ke lima Pangeran Biru di Piala AFC 2015. PERSIB pun menargetkan poin penuh guna mengamankan posisi puncak klasemen Grup H Piala AFC 2015. ***

Sumber : www.persib.co.id

SEMOGA SPASO BISA BERMAIN

Bomber PERSIB Ilija Spasojevic mengaku sedih karena belum dapat tampil bersama timnya pada laga resmi. Selain belum dapat tampil di Piala AFC, kompetisi domestik QNB League 2015 pun membuatnya harus menahan ambisi untuk secepatnya merumput bersama Maung Bandung.

Kondisi tersebut harus dimaklumi oleh Spaso sebab dirinya tidak dapat berbuat banyak. Tapi, ia menegaskan kondisi itu tidak akan menurunkan motivasinya dalam berlatih sambil menunggu tampil kembali bersama PERSIB, setelah sebelumnya menghadapi Semen Padang dan Pelita Bandung Raya (PBR) beberapa waktu lalu.

"Jujur saya sedih dengan situasi ini, tapi harus saya terima. AFC Cup belum dapat main dan QNB diundur. Pasti saya sedih sekali, karena saya ingin bermain bersama PERSIB, tapi ini tidak akan mengganggu persiapan saya untuk adaptasi," kata Spaso usai berlatih, Selasa (28/4/2015).

Dirinya pun menyimpan harapan besar buat teman-temannya agar dapat lolos babak 16 besar. Sebab, dirinya tidak dapat membantu bekerjasama pada fase Grup H Piala AFC 2015 tersebut. Dirinya pun mendoakan semoga tim selalu diberi kelancaran selama mengarungi kompetisi.

"Saya berharap dapat membantu tim dibabak selanjutnya. Saat ini saya berharap tim mendapat hasil terbaik, semoga usaha dan target tim dapat tercapai. Mudah-mudahan teman-teman bisa membawa lolos tim ke 16 besar," harapnya. ***

Sumber : www.persib.co.id

SUPPORTERS, MASCOT, RIVAL, AND OWNERSHIP

Supporters & mascot

Supporters display a celebration during a match in Si Jalak Harupat Stadium.
Choreography in Si Jalak Harupat Stadium.
Persib's supporters are called Bobotoh, which means the ones who supports individuals competing in a competition.[28] There are many big supporter groups, but the most famous groups are Viking Persib Club, Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), The Bomb's and Flowers City Casuals.[9][29] The number of Persib supporters are estimated to be around 5,3 to 5,5 million all around Indonesia.[30][31]
The mascot of Persib is the Maung Bandung.[32]

Rivalries

Persib have rivalries with Persebaya Surabaya, PSMS Medan and PSM Makassar rooting from the Perserikatan era.[33]
Nowadays, Persib have a rivalry with Persija Jakarta, which is more seen as a rivalry between supporters and have turned into hostility between both clubs hard-line supporters. Influenced by the media and some individuals that want the hostility to be preserved, many hostile incidents have occurred until today.[34][35] In 2014, there had been a reconciliation held by Polda Jabar to avoid unnecessary future clashes.[36]
Persib Bandung also have a crosstown derby with Pelita Bandung Raya. This derby is called Derby Bandung. [37]

Ownership

Persib was previously owned by city government and its budget was allocated from the city budget. In accordance with the regulations of Permendagri No. 13/2006 which was revised to Permendagri No. 59/2007, professional clubs are no longer allowed to use government budget. This conditions forced 36 Football Union as the stakeholder of Persib agreed to give a mandate to the former Bandung Mayor Dada Rosada to save Persib so it can still enter the competition. PT. Persib Bandung Bermartabat then founded in 20 August 2009 as the legal basis of the club.[9]
Erick Thohir, the owner of Mahaka Media, Viva Media, Philadelphia 76ers, Satria Muda BritAma Jakarta, D.C. United and Inter Milan, is one of the commissioner in PT. Persib Bandung Bermartabat and owns a large share of the club.[38]



Sumber : Wikipedia English

THE HISTORY OF PERSIB BANDUNG

Foundation and early years (1933–1940)

Before Persib was formed, football in Bandung started with the formation of Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) in 1923. It was at that time a nationalist-minded association with Syamsudin as the owner which was then forwarded to the son of the Indonesian heroines Dewi Sartika, R. Atot. BIVB then disappeared and two other associations surfaced, which are Bandung Indonesian Football Association Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) and National Voetball Bond (NVB). On 14 March 1933, the two associations and several other teams, such as SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Sun, Ovu, RAN, HBOM, JOP, MALTA, and Merapi, agreed to merge and a new association was born named Persib with Anwar St. Pamoentjak as chairman. During the early years, they became runner-up in the 1933, 1934 and 1936 Perserikatan seasons. Ultimately became champion for the first time in the 1939 season.[2]

Perserikatan era (1940–1994)

During the 50's, Aang Witarsa and Anas became the first players that was called up to the Indonesia national football team. During this period, Persib became one of the elite teams in Indonesian football, by winning their second Perserikatan title in 1961. As a result, Persib was sent to compete in the Aga Khan Gold Cup. One of the star from the team was Emen "Guru" Suwarman. Persib did not gained any significant achievement until crowned as runner-up in the 1966 season.[3]
The 70's was the darkest time for Persib, culminating with their relegation to the First Division in the 1978–79 season. The club did a youth player development revolution by hiring Polish coach Marek Janota to lead the youth squad and Risnandar Soendoro managing the senior squad. The combination of the two teams managed to promote Persib back to the Premier Division. The team consist of now famous players such as Robby Darwis, Adeng Hudaya, Adjat Sudrajat, Suryamin, Dede Iskandar, Boyke Adam, Sobur, Sukowiyono, Giantoro, Kosasih B, Encas Tonif and Iwan Sunarya. Persib then became two-time runner-ups in the 1982–83 and 1984–85 seasons.[4]
In 1985, Ateng Wahyudi became the new chairman replacing Solihin GP. One year after, Persib again became champion in 1986 beating Perseman Manokwari 1–0. Persib managed to became champion again in 1990, beating Persebaya Surabaya 2–0. First team players from this time was Samai Setiadi, Ade Mulyono, Asep Sumantri, Dede Rosadi, Yusuf Bachtiar, Sutiono Lamso, Yana Rodiana, Sarjono, Sidik Djafar and Djadjang Nurdjaman.[5]
Ateng Wahyudi was then replaced by Wahyu Hamijaya in 1993 as chairman of Persib. They then became champion in the last season of Perserikatan by beating PSM Makassar 2–0. As the last champion fo Perserikatan and as a result of the merger of Perserikatan and Galatama which became Liga Indonesia Premier Division, Persib was allowed to keep the President Cup, the name of the Perserikatan Trophy, forever.[6]

Modern era and recent history (1994–present)

Persib became the first champion of the newly formed Liga Indonesia Premier Division by beating Petrokimia Putra 1–0.[6] In 1995, Persib also managed to perform until the quarter-finals of the AFC Champions League. Despite the traditions and winning the first edition of the Liga Indonesia Premier Division, Persib have endured a difficult time. They have used many local and international coaches such as Marek Andrzej Sledzianowski, Juan Antonio Paez, Arcan Iurie, Risnandar Soendoro, Indra Thohir, and Jaya Hartono, but their best finish was finishing third in the 2008–09 Indonesia Super League.[7][8]
As a result of the regulations of Permendagri No. 13/2006 which was revised to Permendagri No. 59/2007, where professional clubs are no longer allowed to use government budget, 36 members as the stakeholders of Persib gave a mandate to the former Mayor of Bandung Dada Rosada to save Persib so it can still enter the competition. PT. Persib Bandung Bermartabat was then founded in 20 August 2009 as the legal basis of the club.[9]
In 2012, Persib hired former player Djadjang Nurdjaman as their new head coach.[10] In 2013, Persib cannot use Siliwangi Stadium for official matches, because PSSI have degraded the class-level of the stadium to be only used as a training field.[11] Persib then used Jalak Harupat Soreang Stadium as a permanent home base.[12] On 8 September 2014, Persib got the license as a professional club.[13]
In 2014, after nineteen years without any major trophy, Persib managed to won the 2014 Indonesia Super League by beating Persipura Jayapura. Ferdinand Sinaga also got the Best Player award for 2014.[14]



Sumber : Wikipedia English

PRESTASI PERSIB

Salah satu catatan unik dari tim ini adalah ketika menjuarai kompetisi sepak bola Perserikatan yang untuk terakhir kalinya diadakan, yaitu pada tahun 1993/1994. Dalam pertandingan final, Persib yang ditulang-punggungi oleh pemain-pemain seperti Sutiono Lamso dan Robby Darwis mengalahkan PSM Makassar. Kompetisi sepak bola Galatama dan tim-tim Perserikatan di Indonesia kemudian dilebur menjadi Liga Indonesia (LI). Pada laga kompetisi LI pertama tahun 1994/1995, Persib kembali menorehkan catatan sebagai juara setelah pertandingan final mengalahkan Petrokimia Putra Gresik, dimana gol tunggal pada pertandingan tersebut dicetak oleh Sutiono. Persib juga merupakan salah satu klub Indonesia yang berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia.

Nasional

Liga

Perserikatan
Juara (5): 1937, 1961, 1986, 1990, 1994
Runner-up (8) : 1933, 1934, 1936, 1950, 1959, 1960, 1982/1983, 1984/1985
  • Liga Indonesia
Juara (1): 1994–95

Liga Indonesia

  • Tahun 1995, Juara Liga Indonesia
  • Tahun 1996, Penyisihan Grup C, Peringkat 3 Divisi Barat
  • Tahun 1997, Penyisihan Grup B, Peringkat 1 Divisi Tengah
  • Tahun 1998, Semifinalis
  • Tahun 1999, Peringkat 3 Grup B, Wilayah Barat
  • Tahun 2000, Peringkat 8 Wilayah Barat
  • Tahun 2001, 8 Besar Liga Indonesia, Peringkat 3 Divisi Barat
  • Tahun 2002, Peringkat 8 Wilayah Barat
  • Tahun 2003, Peringkat 16 Liga Bank Mandiri
  • Tahun 2004, Peringkat 6 Liga Bank Mandiri
  • Tahun 2005, Peringkat 5 Wilayah Satu
  • Tahun 2006, Peringkat 12 Wilayah Satu
  • Tahun 2007, Peringkat 5 Wilayah Barat, Juara Turnamen Paruh Musim "Laga Bintang" Liga Djarum melawan Peringkat 1 Wilayah Timur

Liga Super Indonesia

Persib Bandung & Prestasi

Liga Nasional

  • Liga Indonesia/Liga Super Indonesia
  • Juara (2): 1995, 2014
  • Runner-Up (0):

Piala Nasional

  • Piala Indonesia
  • Juara (0):
  • Runner-Up (0):
  • Inter Island Cup
  • Runner-Up (1): 2014

Turnamen Nasional

  • Persija Cup
  • Juara (1): 1991
  • Kang Dada Cup
  • Juara (1): 2008
  • Celebes Cup
  • Juara (1): 2012
  • Jusuf Cup
  • Juara (1): 1979
  • Juara Cup
  • Juara (1): 1957
  • Piala Utama
  • Juara (1): 1992
  • Piala Walikota Padang
  • Juara (1): 2015

Internasional

  • Pesta Sukan (Sultan Brunei Cup)
  • Juara (1): 1986
  • Liga Champions Asia
  • Perempatfinal (1): 1995


 Sumber : Wikipedia Indonesia

STADION KANDANG PERSIB

Hingga saat ini, Persib masih menggunakan Stadion Si Jalak Harupat untuk memainkan laga kandangnya. Setelah sebelumnya memakai Stadion Siliwangi.
Pada Liga Super Indonesia 2008, Persib terpaksa harus meninggalkan Stadion Siliwangi setelah terjadi kerusuhan ketika menjamu Persija Jakarta pada pekan kedua. Ditambah situasi politik yang sedang memanas akibat berlangsungnya Pemilu 2009, Kepolisian Kota Bandung tidak lagi mengeluarkan surat izin menyelenggarakan pertandingan di Stadion Siliwangi bagi Persib. Sebagai alternatif, dipilihlah Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, sebagai "home-base" hingga akhir musim kompetisi.
Berdasarkan permasalahan itulah Pemerintah Kota Bandung berencana membangun sarana olahraga baru, termasuk stadion, di kawasan Gedebage. Stadion itu sendiri, yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada awal 2008, ini diproyeksikan untuk menjadi home-base Persib serta untuk menyelenggarakan SEA Games tahun 2011. Stadion ini juga direncanakan untuk digunakan pada Porprov Jawa Barat 2010. Kontrak stadion yang diberi nama Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini diperoleh PT Adhi Karya Tbk dengan nilai Rp495,945 miliar. Sayangnya, hingga detik ini Stadion GBLA masih belum bisa menjadi home base resmi Persib, lantaran akses masuk stadion yang belum siap. Manajemen pun tetap mempertahankan Stadion Si Jalak Harupat sebagai home base dalam melakoni laga-laga resmi.
Untuk lapangan latihan, Persib menggunakan Stadion Persib di Jl. Ahmad Yani. Stadion yang dulunya dikenal dengan nama Stadion Sidolig ini direnovasi sejak tahun lalu. Kini di stadion tersebut terdapat lapangan latihan dengan rumput baru dan trek berlari serta di sampingnya terdapat mess untuk tempat tinggal para pemain dan staff Persib serta untuk kantor. Pada pertengahan bulan Juli, diadakan rencana renovasi tahap kedua, yaitu merenovasi bagian depan stadion yang sekarang ini hanya merupakan ruko-ruko tempat menjual pernak-pernik Persib. Rencana ini menimbulkan kerisauan bagi para pedagang di sekitar Stadion Persib karena mereka tidak akan mendapat penghasilan jika diwajibkan mengosongkan lahan bisnis mereka.
Sejak diresmikan, pernah terjadi kebocoran dan ambruk akibat pipa air yang bocor. Belum lagi masalah rumput lapangan yang mengering. Atap ruang VIP di mess itu sering dipakai. Akhir-akhir ini atap mess juga bocor akibat musim hujan, sehingga menyebabkan licinnya lantai dan terganggunya aktivitas. Letak Stadion Persib yang berada di Jl. Ahmad Yani yang merupakan pusat keramaian juga membuat istirahat para pemain terganggu dan mudahnya para bobotoh untuk masuk ke dalam stadion.

Sumber : Wikipedia Indonesia

SEJARAH PERSIB VERSI WIKIPEDIA

Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur'alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.

Sumber: Wikipedia Indonesia

Jumat, 20 Maret 2015

15 FAKTA UNIK MENGENAI KLUB DAN SUPORTER DI INDONESIA






15 fakta unik mengenai klub dan suporter di Indonesia, yaitu:

1. Hanya ada di Indonesia, klub dibiayai oleh pemerintah daerah.  Sedangkan kas pemerintah daerah sejatinya merupakan uang rakyat. Dan tidak 100% rakyat merupakan fans sepak bola. Maka berbanggalah klub-klub yang mandiri.

2. Selalu saja ada suporter yang biasa menonton sepak bola di stadion menggunakan helm.

3. Sikap rasisme dan yel-yel saling menghina merupakan bagian dari sikap buruk suporter Indonesia.

4. Setidaknya ada 3 klub (Persib, PSM Makasar, PSMS Medan) yang memiliki suporter secara turun temurun, minimal 3 generasi (kakek, ayah, anak).

5. Jarang sekali (atau bahkan tidak ada) ditemukan yel-yel kelompok suporter yang benar-benar dibuat sendiri. Kebanyakan merupakan jiplakan dari lagu lawas, lagu pergerakan atau lagu dangdut.

6. Hanya ada di Indonesia, satu klub di dukung oleh 2 atau lebih kelompok suporter yg berbeda nama dan haluan. Pendukung Persib memang memiliki banyak kelompok, tapi dikemas dalam sebuah wadah, yaitu Bobotoh Persib.

7. Radio suporter pertama di Asia berasal dari Indonesia, yaitu Bobotoh FM.

8. Koalisi suporter antara Viking dan Bonek adalah koalisi suporter pertama di dunia, dan hanya ada di Indonesia. Koalisi ini sekarang mulai ditiru di kalangan suporter Malaysia.

9. Persib Bandung pernah menjadi klub terkaya di Asia Tenggara.

10. Viking Persib Club, Bonekmania, The Jakmania, dan Aremania, adalah 4 kelompok suporter terfanatik dan terloyal di Indonesia. Bahkan sebenarnya, lebih berani dari Hooligan. Tapi fanatisme suporter Indonesia, terkesan menjurus kepada aksi anarkisme yang sangat kampungan.

11. Pertandingan Persib vs Persija dianggap merupakan El-Clasico Indonesia. Padahal sebenarnya, tidak ada alasan sama sekali berdasarkan sejarah. Pertandingan keduanya menjadi panas hanya karena pengaruh suporter yang saling bermusuhan dari sejak awal tahun 2000-an. Faktanya, klub Persebaya lah yang menjadi klub tandingan Persib di setiap kompetisi dari sejak puluhan tahun lalu. Persib vs Persebaya lebih tepat menggunakan istilah El-Clasico.

12. Setidaknya hanya 2 klub Indonesia yang setiap kali bermain, selalu menjadi Trendic Topic di twitter, yaitu Persib dan Persija (Biasanya TT Persija dibantu oleh akun-akun nasional, iklan, dan akun Bobotoh). Bahkan, hastag #PersibDay selalu menjadi TT walau Persib bermain tanpa disiarkan di televisi.

13. Persib adalah satu-satunya klub di Indonesia yang bisa bersaing dengan kepopuleran klub-klub elit Eropa di internet. Terbukti, kata kunci Persib adalah yang paling bnyak dicari di google selama beberapa tahun, mengalahkan popularitas Manchester United. Persib juga merupakan klub dengan Fans Page Facebook terbesar di Indonesia, mencapai 6 juta likers, mengalahkan jumlah FP Inter Milan. Akun twitter @Persib memiliki pengikut terbesar dibandingkan klub-klub yang lain di Indonesia, mencapai 1,2 juta followers.

14. Disamping populer, Persib juga menjadi klub yang mempelopori klub mandiri, terbebas dari dana pemerintah. Bahkan, Persib adalah klub yang paling diburu oleh sponsor, mengingat jumlah Bobotoh yang begitu besar dapat menjadi pemasukan inti sebuah perusahaan.

15. Walau fans Persib berasal dari berbagai kalangan, tapi Persib dianggap merupakan timnasnya sebuah suku, yaitu Sunda. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan www.thetoptens.com/best-football-soccer-club/ yang merupakan sebuah web voting. Mereka berpendapat, bahwa Persib adalah klub yang sukses melahirkan pendukung secara turun temurun. Bahkan ketika Persib berada dalam keadaan terpuruk, loyalitas suporternya tak pernah padam. Hanya sekedar informasi, jumlah suku Sunda mencapai 40 juta-an, terpusat di Jawa Barat dengan jumlah penduduk sekitar 45 juta dan Banten berpenduduk 11 juta serta menyebar di berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa negara lain.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms atau @BobotohIndo)

Jumat, 06 Maret 2015

SALAM SATU BIRU DARI AREMANIA UNTUK SELURUH BOBOTOH

THE STORY OF THE BLUES: AREMANIA X VIKING | The Origins - Ini adalah cerita dua kelompok suporter dari empat yang terbesar di Indonesia yang sama-sama Berdarah Biru. Ada apa dengan dua komunitas suporter biru ini? Tak pernah jelas penyebab dan kapan mulai bermusuhannya, karena keduanya sama-sama tak merasa pernah memproklamirkan untuk memusuhi sang rival, tapi malah merasa kenapa selalu dihina/rasis di setiap chant/lagu yang dinyanyikan di stadion oleh kedua kelompok suporter. Perang verbal/kata-kata di dunia maya pun dikobarkan, dari nama binatang hingga yang terkotor pun keluar dan insiden lempar batu buat kendaraan yang melewati daerah kekuasaan pun terjadi. Sebelum korban lebih serius berjatuhan Ayas mencoba merunut asal mula ketidakharmonisan Biru Timur dan Biru Barat. Dan yang pertama Ayas ingin menjelaskan tentang nama Bobotoh dan Viking.

Bobotoh dan Viking
Menurut Kamus Umum Basa Sunda, yang diterbitkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, bobotoh berarti purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten (yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba). Arti ini sesuai dengan pemahaman bobotoh sebagai pendukung tim Maung Bandung, maka semua pendukung Persib bisa disebut Bobotoh, walau dulu suporter Persikabo sempat menamakan diri Bobotoh Persikabo sebelum akhirnya menjadi Kabomania.
 

125 ribu penonton Bobotoh pendukung Medan memadati Senayan di Final Divisi Utama Perserikatan antara PSMS vs Persib, 23 Febuari 1985. Saat itu belum ada atribut dan gerakan khas suporter seperti sekarang. (foto: 12paz)
Seperti kebanyakan klub jaman Perserikatan dulu, Persib juga mempunyai basis pendukung Bobotoh di sebagian besar wilayah Jawa Barat terutama Urang Sunda, seperti juga Persebaya orang Jawa Timur pasti berharap Persebaya jika melawan tim luar Jatim. Kala itu memang belum ada klub di Jabar yang lebih mentereng dari Persib, sehingga bisa Persib dianggap sebagai Pride of Jabar. Bobotoh sendiri tak pernah di-organisasikan, tak ada ketua,dan tak ada KTA, tak ada AD/ART dsb, semua hanya panggilan jiwa karena mencintai Persib, seperti juga Aremania sebuah  panggilan jiwa karena cinta terhadap Arema. Dan bisa dibilang Bobotoh adalah nama kelompok pendukung klub sepakbola yang pertama di Indonesia dan yang paling besar anggotanya.

Saat era Liga Indonesia (Ligina) dihidupkan dengan menggabung Liga Perserikatan dan Galatama,  bobotoh yang biasa menempati tribun selatan Siliwangi berinisiatif mengorganisasikan diri dengan membentuk Viking Persib Club pada tanggal 17 Juli 1993, dipelopori oleh Heru Joko,Ayi Beeutik dll. Selain Viking banyak juga Bobotoh yang membuat kelompok terorganisir seperti Balad Persib, Bomber (Bobotoh Maung Bersatu), Vicker, Rebolan, Jurig Persib, Casper, Persib-1337 dll. Namun kini nama Bomber dan Viking-lah yang paling berkibar menjadi salah satu kelompok Bobotoh yang terbesar, terutama Viking terutamai dengan adanya konflik dengan suporter ibukota The Jak membuat nama Viking lebih familiar bagi orang awam daripada nama Bobotoh sendiri. Jadi nawak dapat ketahui kini, bahwa Viking itu Bobotoh, tapi Bobotoh belum tentu Viking.

Saudara Satu Hati
Dan bicara tentang renggangnya hubungan Aremania dan Viking tak bisa dilepaskan dengan yang dianggap saudara satu hati mereka The Jakmania alias Oren dan Bonekmania alias Ijo. Seperti kita tahu Viking dan Jakmania mempunyai cerita kelam diawal era Ligina yang membuat hingga sekarang mereka tak akur, sementara Aremania dan Bonek mempunyai sejarah yang lebih suram, bahkan dimulai sebelum nama Aremania itu ada. Sehingga secara tak langsung kedekatan Biru Timur dengan Oren dan Biru Barat dengan Ijo, mempengaruhi hubungan dua Suporter Biru tersebut. Walaupun The Jak cuma bermasalah dengan Viking namun kelompok Bobotoh selain viking pun ikut arus permusuhan mereka, termasuk yang sekarang terjadi dengan Aremania.

Jelang laga Persib vs Persebaya 2009, aparat Bandung yang menyediakan penampungan dan makanan di Lanud Sulaeman untuk Bonek yang menyerbu Bandung dengan modal pas-pasan bahkan tiket pun tak kebeli. Serta adanya atribut Rambo Ijo di laga Persib menandai eratnya hubungan Viking dan Bonek. (foto:PR, Antara, Detik)

Biru Ijo
Memang dulu pada era Perserikatan Persib dan Persebaya adalah musuh bebuyutan, namun waktu itu bukannya era suporter seperti saat ini. Belum ada Viking Persib Club dan istilah Bonek baru muncul awal 90-an oleh Koran Jwa Pos, yang ada hanya penonton pecinta bola sehingga tidak relevan jika disebut Viking dan Bonek dulunya adalah musuh bebuyutan karena yang ada hanyarivalitas tim sepakbola-nya saja. Sedangkan hubungan manis antara Pendukung Biru Barat dan Ijo dimulai ketika mereka punya musuh yang sama, yakni The Jakmania. Hubungan Jakmania dan Bonek End! adalah buntut dari terusirnya Bonek dari Jakarta pada babak delapan besar Liga Indonesia tahun 2005. Dan sebaliknya maka semakin akrab-lah hubungan kedua suporter yang sebenarnya bertipikal berbeda, Viking bertipikal lebih terorganisir sedangkan Bonek bertipikal sporadis bermodal semangat dan nekad seperti julukan mereka.

Dan hubungan itu semakin erat dan semakin puncaknya ketika ISL musim 2009/2010, Viking si Biru Barat mengikrarkan bersaudara dengan Bonek alias Ijo karena mereka merasa sama-sama menjadi korban ketidakadilan dari PSSI dan juga media massa di Indonesia. Mereka merasa dikambing hitamkan dan dicap sebagai suporter perusuh oleh media karena seringmya pemberitaan tentang kerusuhan dan tindakan anarkis yang mereka lakukan bahkan di kandang mereka sendiri. Sejak saat itu muncul-lah blok-blok kelompok suporter di Indonesia, dan salah satunya adalah blok dengan Salam Satu Hati dengan logo muka manusia brewok dengan topi bertanduk dan separuh muka rambo ijo. Di musim inilah lagu rasis semakin nyaring di Siliwangi dan Kanjuruhan saling bersahut-sahutan saling menghina seiiring dengan dengan semakin eratnya hubungan Oren dan Ijo dengan dua suporter Biru.

Sebagai tanda eratnya persaudaraan antara Bandung dengan Surabaya, musim itu Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf menggratiskan tiket kepada 3 ribuan bonek yang menyerbu Bandung, untuk mendukung Persebaya saat di Jamu Persib. Padahal semula Bonek yang kebanyakan bermodalkan pas-pasan sudah memanjat pintu gerbang Stadion Si Jalak Harupat dan menduduki Tribun VIP Si Jalak Harupat karena tak kebeli tiket, yang akhirnya Bonek-bonek tersebut digiring ke tribun yang sudah ditentukan. Bahkan saking eratnya hubungan mereka hingga setiap laga Persib di daerah Jawa Timur selalu ada atribut Ijo-ijo walaupun saat itu Persebaya telah hijrah ke liga yang lain. Bahkan di Siliwangi atau di Si Jalak Harupat saat Persib main, spanduk dengan gambar Rambo Ijo selalu hadir meskipun tak ada Persebaya disana.

Biru Oren
Sedangkan Aremania sendiri mempunyai hubungan yang baik dengan Jakmania, ini tak lepas dengan banyaknya Arema (Arek Malang) yang ada di Jabotabek. Setiap ada laga di Senayan minimal 5 ribuan Aremania bakal membanjiri Jakarta, begitupun jika Persija main di Malang Jakmania selalu disambut hangat. Walaupun Aremania disebut bersaudara dengan The Jak, namun Aremania tak pernah memproklamirkan bermusuhan dengan Bobotoh.

Aksi Aremania di Senayan 16 Februari 2013 lalu, yang berbuah hasil Persija 1 - 2 Arema. (foto: WeAremania)
Namun hubungan Aremania dan Jakmania bukannya tanpa insiden,  pada tahun 2003, rombongan kecil Aremania pernah diserang Jakmania usai pertandingan Persija menjamu Arema di Stadion Lebakbulus. Bahkan terjadi kejar-kejaran dari Lebakbulus sampai Pondok Indah Mall (+ 2km) yang akhirnya rombongan Aremania memilih berlindung sementara di Kantor Polisi setempat. Sebenarnya nawak-nawak Aremania saat itu sudah merasa emosi dan ingin melawan, namun salah seorang nawak yang cukup tua mengingatkan, "“Hei ojok dilawan. Kera licek kuabeh iku,  Aremania iku cinta damai” (jangan dilawan, itu nak kecil semua, Aremania itu cinta damai).  Dan karena itulah walau pernah ada insiden kecil dengan The Jak, hubungan Aremania tetap harmonis dan semakin erat seperti saat ini.

Satu hal yang pasti, hubungan Aremania dan Jakmania tak pernah berlebihan, menjadi rival di tribun yang berlawanan, bersaing dalam kreatifitas mendukung kesebelasan yang bermain di lapangan hijau dan menjadi layaknya kawan yang di luar stadion. Jarang ditemui sampai Aremania numpang eksis dilaga Persija dengan ikut pasang spanduk atau bendera bersama saat Persija main, walaupun Persija main di Jawa Timur sekalipun paling yang ada hanya satu atau dua orang individual Aremania yang hadir bersama Jakmania untuk mendukung Persija.

Bagi Aremania derajat persaudaraan dengan Jakmania sama seperti bersaudara dengan LAmania, Singamania, Pusamania, Balistik, juga yang lainnya yang utama adalah mendukung Arema dan menjaga nama baik Aremania Sendiri. "Kawanmu adalah Kawanku, Musuhmu Bukanlah Musuhku" kira-kira filosofi yang dipegang Aremania. Pernah Ayas baca postingan di grup facebook Aremania Bogor, ketika salah seorang Aremania Licek mengadu tentang Jakmania tawuran dengan Kabomania di daerah Cibinong-Bogor dan mengajak nawak-nawak di Aremania Bogor membantu tawuran melawan Kabomania. Namun komentar di bawah postingan tersebut sungguh mengejutkan bagi Arema Licek tersebut. "Umak mau jadi Jakmania atau Aremania?"
Aremania adalah Aremania, bukan Jakmania, bukan  juga Viking apalagi Bonekmania. Jadi suporter jangan seperti sampah atau kotoran dikali, selalu ikut arus kemanapun air membawanya. Jadilah suporter dengan karaktermu sendiri, Biru adalah Biru, bukan Oren atau Ijo. #Respect


Sementara, cukup sampai sini dulu tulisannya, walau masih belum terurai apa penyebab memburuknya hubungan dua kelompok Suporter Biru, namun ini bisa sebagai latar belakang atau pembukaan menuju lanjutan tulisan berikutnya (Part.02). Yang pasti puncak dari semua kejadian penyebab tidak akurnya dua Biru terjadi di musim 2009/2010, apa itu? Tunggu ditulisan berikutnya... (Soalnya mengurai tentang Aremania dan Viking cukup menguras pikiran juga) -to be continued-

IDIK M S

IDIK M S

Partisipasi Publik

Anda bisa ikut berpartisipasi dalam memberikan sebuah opini, informasi, data yang bisa di download atau apapun itu, dengan mengirimkan melalui E-Mail idikms@gmail.com dengan format:
1. Nama Pengirim
2. Judul Bahan
3. Masukkan alamat Blog yang hendak menampilkan data anda
Sebagai contoh :
Nama Pengirim = Idik Saeful Bahri
Judul Bahan = DOWNLOAD E-BOOK MAHASISWA
Alamat Blog = idikms.blogspot.com, 3kuningan.blogspot.com, dan viking-bobotoh-persib.blogspot.com

IDIK SAEFUL BAHRI

IDIK SAEFUL BAHRI