About

Idik Saeful Bahri mengucapkan selamat datang dan selamat mencari inspirasi di Blog-blog yang sudah menjadi bagian dari blog Idikms. Jangan sungkan untuk memberikan kontribusi dan kritik, serta jangan bosan untuk kembali mampir disini.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

DIX VUL RY

DIX VUL RY

Jumat, 20 Maret 2015

15 FAKTA UNIK MENGENAI KLUB DAN SUPORTER DI INDONESIA






15 fakta unik mengenai klub dan suporter di Indonesia, yaitu:

1. Hanya ada di Indonesia, klub dibiayai oleh pemerintah daerah.  Sedangkan kas pemerintah daerah sejatinya merupakan uang rakyat. Dan tidak 100% rakyat merupakan fans sepak bola. Maka berbanggalah klub-klub yang mandiri.

2. Selalu saja ada suporter yang biasa menonton sepak bola di stadion menggunakan helm.

3. Sikap rasisme dan yel-yel saling menghina merupakan bagian dari sikap buruk suporter Indonesia.

4. Setidaknya ada 3 klub (Persib, PSM Makasar, PSMS Medan) yang memiliki suporter secara turun temurun, minimal 3 generasi (kakek, ayah, anak).

5. Jarang sekali (atau bahkan tidak ada) ditemukan yel-yel kelompok suporter yang benar-benar dibuat sendiri. Kebanyakan merupakan jiplakan dari lagu lawas, lagu pergerakan atau lagu dangdut.

6. Hanya ada di Indonesia, satu klub di dukung oleh 2 atau lebih kelompok suporter yg berbeda nama dan haluan. Pendukung Persib memang memiliki banyak kelompok, tapi dikemas dalam sebuah wadah, yaitu Bobotoh Persib.

7. Radio suporter pertama di Asia berasal dari Indonesia, yaitu Bobotoh FM.

8. Koalisi suporter antara Viking dan Bonek adalah koalisi suporter pertama di dunia, dan hanya ada di Indonesia. Koalisi ini sekarang mulai ditiru di kalangan suporter Malaysia.

9. Persib Bandung pernah menjadi klub terkaya di benua Asia.

10. Viking Persib Club, Bonekmania, The Jakmania, dan Aremania, adalah 4 kelompok suporter terfanatik dan terloyal di Indonesia. Bahkan sebenarnya, lebih berani dari Hooligan. Tapi fanatisme suporter Indonesia, terkesan menjurus kepada aksi anarkisme yang sangat kampungan.

11. Pertandingan Persib vs Persija dianggap merupakan El-Clasico Indonesia. Padahal sebenarnya, tidak ada alasan sama sekali berdasarkan sejarah. Pertandingan keduanya menjadi panas hanya karena pengaruh suporter yang saling bermusuhan dari sejak awal tahun 2000-an. Faktanya, klub Persebaya lah yang menjadi klub tandingan Persib di setiap kompetisi dari sejak puluhan tahun lalu. Persib vs Persebaya lebih tepat menggunakan istilah El-Clasico.

12. Setidaknya hanya 2 klub Indonesia yang setiap kali bermain, selalu menjadi Trendic Topic di twitter, yaitu Persib dan Persija (Biasanya TT Persija dibantu oleh akun-akun nasional, iklan, dan akun Bobotoh). Bahkan, hastag #PersibDay selalu menjadi TT walau Persib bermain tanpa disiarkan di televisi.

13. Persib adalah satu-satunya klub di Indonesia yang bisa bersaing dengan kepopuleran klub-klub elit Eropa di internet. Terbukti, kata kunci Persib adalah yang paling bnyak dicari di google selama beberapa tahun, mengalahkan popularitas Manchester United. Persib juga merupakan klub dengan Fans Page Facebook terbesar di Indonesia, mencapai 6 juta likers, mengalahkan jumlah FP Inter Milan. Akun twitter @Persib memiliki pengikut terbesar dibandingkan klub-klub yang lain di Indonesia, mencapai 1,2 juta followers.

14. Disamping populer, Persib juga menjadi klub yang mempelopori klub mandiri, terbebas dari dana pemerintah. Bahkan, Persib adalah klub yang paling diburu oleh sponsor, mengingat jumlah Bobotoh yang begitu besar dapat menjadi pemasukan inti sebuah perusahaan.

15. Walau fans Persib berasal dari berbagai kalangan, tapi Persib dianggap merupakan timnasnya sebuah suku, yaitu Sunda. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan www.thetoptens.com/best-football-soccer-club/ yang merupakan sebuah web voting. Mereka berpendapat, bahwa Persib adalah klub yang sukses melahirkan pendukung secara turun temurun. Bahkan ketika Persib berada dalam keadaan terpuruk, loyalitas suporternya tak pernah padam. Hanya sekedar informasi, jumlah suku Sunda mencapai 40 juta-an, terpusat di Jawa Barat dengan jumlah penduduk sekitar 45 juta dan Banten berpenduduk 11 juta serta menyebar di berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa negara lain.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms atau @BobotohIndo)

Jumat, 06 Maret 2015

SALAM SATU BIRU DARI AREMANIA UNTUK SELURUH BOBOTOH

THE STORY OF THE BLUES: AREMANIA X VIKING | The Origins - Ini adalah cerita dua kelompok suporter dari empat yang terbesar di Indonesia yang sama-sama Berdarah Biru. Ada apa dengan dua komunitas suporter biru ini? Tak pernah jelas penyebab dan kapan mulai bermusuhannya, karena keduanya sama-sama tak merasa pernah memproklamirkan untuk memusuhi sang rival, tapi malah merasa kenapa selalu dihina/rasis di setiap chant/lagu yang dinyanyikan di stadion oleh kedua kelompok suporter. Perang verbal/kata-kata di dunia maya pun dikobarkan, dari nama binatang hingga yang terkotor pun keluar dan insiden lempar batu buat kendaraan yang melewati daerah kekuasaan pun terjadi. Sebelum korban lebih serius berjatuhan Ayas mencoba merunut asal mula ketidakharmonisan Biru Timur dan Biru Barat. Dan yang pertama Ayas ingin menjelaskan tentang nama Bobotoh dan Viking.

Bobotoh dan Viking
Menurut Kamus Umum Basa Sunda, yang diterbitkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, bobotoh berarti purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten (yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba). Arti ini sesuai dengan pemahaman bobotoh sebagai pendukung tim Maung Bandung, maka semua pendukung Persib bisa disebut Bobotoh, walau dulu suporter Persikabo sempat menamakan diri Bobotoh Persikabo sebelum akhirnya menjadi Kabomania.
 

125 ribu penonton Bobotoh pendukung Medan memadati Senayan di Final Divisi Utama Perserikatan antara PSMS vs Persib, 23 Febuari 1985. Saat itu belum ada atribut dan gerakan khas suporter seperti sekarang. (foto: 12paz)
Seperti kebanyakan klub jaman Perserikatan dulu, Persib juga mempunyai basis pendukung Bobotoh di sebagian besar wilayah Jawa Barat terutama Urang Sunda, seperti juga Persebaya orang Jawa Timur pasti berharap Persebaya jika melawan tim luar Jatim. Kala itu memang belum ada klub di Jabar yang lebih mentereng dari Persib, sehingga bisa Persib dianggap sebagai Pride of Jabar. Bobotoh sendiri tak pernah di-organisasikan, tak ada ketua,dan tak ada KTA, tak ada AD/ART dsb, semua hanya panggilan jiwa karena mencintai Persib, seperti juga Aremania sebuah  panggilan jiwa karena cinta terhadap Arema. Dan bisa dibilang Bobotoh adalah nama kelompok pendukung klub sepakbola yang pertama di Indonesia dan yang paling besar anggotanya.

Saat era Liga Indonesia (Ligina) dihidupkan dengan menggabung Liga Perserikatan dan Galatama,  bobotoh yang biasa menempati tribun selatan Siliwangi berinisiatif mengorganisasikan diri dengan membentuk Viking Persib Club pada tanggal 17 Juli 1993, dipelopori oleh Heru Joko,Ayi Beeutik dll. Selain Viking banyak juga Bobotoh yang membuat kelompok terorganisir seperti Balad Persib, Bomber (Bobotoh Maung Bersatu), Vicker, Rebolan, Jurig Persib, Casper, Persib-1337 dll. Namun kini nama Bomber dan Viking-lah yang paling berkibar menjadi salah satu kelompok Bobotoh yang terbesar, terutama Viking terutamai dengan adanya konflik dengan suporter ibukota The Jak membuat nama Viking lebih familiar bagi orang awam daripada nama Bobotoh sendiri. Jadi nawak dapat ketahui kini, bahwa Viking itu Bobotoh, tapi Bobotoh belum tentu Viking.

Saudara Satu Hati
Dan bicara tentang renggangnya hubungan Aremania dan Viking tak bisa dilepaskan dengan yang dianggap saudara satu hati mereka The Jakmania alias Oren dan Bonekmania alias Ijo. Seperti kita tahu Viking dan Jakmania mempunyai cerita kelam diawal era Ligina yang membuat hingga sekarang mereka tak akur, sementara Aremania dan Bonek mempunyai sejarah yang lebih suram, bahkan dimulai sebelum nama Aremania itu ada. Sehingga secara tak langsung kedekatan Biru Timur dengan Oren dan Biru Barat dengan Ijo, mempengaruhi hubungan dua Suporter Biru tersebut. Walaupun The Jak cuma bermasalah dengan Viking namun kelompok Bobotoh selain viking pun ikut arus permusuhan mereka, termasuk yang sekarang terjadi dengan Aremania.

Jelang laga Persib vs Persebaya 2009, aparat Bandung yang menyediakan penampungan dan makanan di Lanud Sulaeman untuk Bonek yang menyerbu Bandung dengan modal pas-pasan bahkan tiket pun tak kebeli. Serta adanya atribut Rambo Ijo di laga Persib menandai eratnya hubungan Viking dan Bonek. (foto:PR, Antara, Detik)

Biru Ijo
Memang dulu pada era Perserikatan Persib dan Persebaya adalah musuh bebuyutan, namun waktu itu bukannya era suporter seperti saat ini. Belum ada Viking Persib Club dan istilah Bonek baru muncul awal 90-an oleh Koran Jwa Pos, yang ada hanya penonton pecinta bola sehingga tidak relevan jika disebut Viking dan Bonek dulunya adalah musuh bebuyutan karena yang ada hanyarivalitas tim sepakbola-nya saja. Sedangkan hubungan manis antara Pendukung Biru Barat dan Ijo dimulai ketika mereka punya musuh yang sama, yakni The Jakmania. Hubungan Jakmania dan Bonek End! adalah buntut dari terusirnya Bonek dari Jakarta pada babak delapan besar Liga Indonesia tahun 2005. Dan sebaliknya maka semakin akrab-lah hubungan kedua suporter yang sebenarnya bertipikal berbeda, Viking bertipikal lebih terorganisir sedangkan Bonek bertipikal sporadis bermodal semangat dan nekad seperti julukan mereka.

Dan hubungan itu semakin erat dan semakin puncaknya ketika ISL musim 2009/2010, Viking si Biru Barat mengikrarkan bersaudara dengan Bonek alias Ijo karena mereka merasa sama-sama menjadi korban ketidakadilan dari PSSI dan juga media massa di Indonesia. Mereka merasa dikambing hitamkan dan dicap sebagai suporter perusuh oleh media karena seringmya pemberitaan tentang kerusuhan dan tindakan anarkis yang mereka lakukan bahkan di kandang mereka sendiri. Sejak saat itu muncul-lah blok-blok kelompok suporter di Indonesia, dan salah satunya adalah blok dengan Salam Satu Hati dengan logo muka manusia brewok dengan topi bertanduk dan separuh muka rambo ijo. Di musim inilah lagu rasis semakin nyaring di Siliwangi dan Kanjuruhan saling bersahut-sahutan saling menghina seiiring dengan dengan semakin eratnya hubungan Oren dan Ijo dengan dua suporter Biru.

Sebagai tanda eratnya persaudaraan antara Bandung dengan Surabaya, musim itu Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf menggratiskan tiket kepada 3 ribuan bonek yang menyerbu Bandung, untuk mendukung Persebaya saat di Jamu Persib. Padahal semula Bonek yang kebanyakan bermodalkan pas-pasan sudah memanjat pintu gerbang Stadion Si Jalak Harupat dan menduduki Tribun VIP Si Jalak Harupat karena tak kebeli tiket, yang akhirnya Bonek-bonek tersebut digiring ke tribun yang sudah ditentukan. Bahkan saking eratnya hubungan mereka hingga setiap laga Persib di daerah Jawa Timur selalu ada atribut Ijo-ijo walaupun saat itu Persebaya telah hijrah ke liga yang lain. Bahkan di Siliwangi atau di Si Jalak Harupat saat Persib main, spanduk dengan gambar Rambo Ijo selalu hadir meskipun tak ada Persebaya disana.

Biru Oren
Sedangkan Aremania sendiri mempunyai hubungan yang baik dengan Jakmania, ini tak lepas dengan banyaknya Arema (Arek Malang) yang ada di Jabotabek. Setiap ada laga di Senayan minimal 5 ribuan Aremania bakal membanjiri Jakarta, begitupun jika Persija main di Malang Jakmania selalu disambut hangat. Walaupun Aremania disebut bersaudara dengan The Jak, namun Aremania tak pernah memproklamirkan bermusuhan dengan Bobotoh.

Aksi Aremania di Senayan 16 Februari 2013 lalu, yang berbuah hasil Persija 1 - 2 Arema. (foto: WeAremania)
Namun hubungan Aremania dan Jakmania bukannya tanpa insiden,  pada tahun 2003, rombongan kecil Aremania pernah diserang Jakmania usai pertandingan Persija menjamu Arema di Stadion Lebakbulus. Bahkan terjadi kejar-kejaran dari Lebakbulus sampai Pondok Indah Mall (+ 2km) yang akhirnya rombongan Aremania memilih berlindung sementara di Kantor Polisi setempat. Sebenarnya nawak-nawak Aremania saat itu sudah merasa emosi dan ingin melawan, namun salah seorang nawak yang cukup tua mengingatkan, "“Hei ojok dilawan. Kera licek kuabeh iku,  Aremania iku cinta damai” (jangan dilawan, itu nak kecil semua, Aremania itu cinta damai).  Dan karena itulah walau pernah ada insiden kecil dengan The Jak, hubungan Aremania tetap harmonis dan semakin erat seperti saat ini.

Satu hal yang pasti, hubungan Aremania dan Jakmania tak pernah berlebihan, menjadi rival di tribun yang berlawanan, bersaing dalam kreatifitas mendukung kesebelasan yang bermain di lapangan hijau dan menjadi layaknya kawan yang di luar stadion. Jarang ditemui sampai Aremania numpang eksis dilaga Persija dengan ikut pasang spanduk atau bendera bersama saat Persija main, walaupun Persija main di Jawa Timur sekalipun paling yang ada hanya satu atau dua orang individual Aremania yang hadir bersama Jakmania untuk mendukung Persija.

Bagi Aremania derajat persaudaraan dengan Jakmania sama seperti bersaudara dengan LAmania, Singamania, Pusamania, Balistik, juga yang lainnya yang utama adalah mendukung Arema dan menjaga nama baik Aremania Sendiri. "Kawanmu adalah Kawanku, Musuhmu Bukanlah Musuhku" kira-kira filosofi yang dipegang Aremania. Pernah Ayas baca postingan di grup facebook Aremania Bogor, ketika salah seorang Aremania Licek mengadu tentang Jakmania tawuran dengan Kabomania di daerah Cibinong-Bogor dan mengajak nawak-nawak di Aremania Bogor membantu tawuran melawan Kabomania. Namun komentar di bawah postingan tersebut sungguh mengejutkan bagi Arema Licek tersebut. "Umak mau jadi Jakmania atau Aremania?"
Aremania adalah Aremania, bukan Jakmania, bukan  juga Viking apalagi Bonekmania. Jadi suporter jangan seperti sampah atau kotoran dikali, selalu ikut arus kemanapun air membawanya. Jadilah suporter dengan karaktermu sendiri, Biru adalah Biru, bukan Oren atau Ijo. #Respect


Sementara, cukup sampai sini dulu tulisannya, walau masih belum terurai apa penyebab memburuknya hubungan dua kelompok Suporter Biru, namun ini bisa sebagai latar belakang atau pembukaan menuju lanjutan tulisan berikutnya (Part.02). Yang pasti puncak dari semua kejadian penyebab tidak akurnya dua Biru terjadi di musim 2009/2010, apa itu? Tunggu ditulisan berikutnya... (Soalnya mengurai tentang Aremania dan Viking cukup menguras pikiran juga) -to be continued-

SEJARAH FLOWER CITY CASUALS

Bagi Agan-agan khususnya yg tinggal di kora Bandung dan sesama pecinta PERSIB lainnya, pastinya sudah tidak asing lagi menyebut nama FCC / Casuals PERSIB.. bagi Agan yg blm tau saya akan menjelaskannya di Thread kali ini .. Ceekidott ..
Sebelum kita membahas apa itu FCC, ada baiknya untuk dulu apa itu Casuals Culture, tentu saja karena menggunakan bahasa inggris, Casuals Culture pertama kali berkembang di Inggris, tepatnya Liverpool akhir tahun 70-an dan awal 80-an, dimana konflik antar pendukung klub di Inggris tengah panas-panasnya, sehingga akses para pendukung sepakbola untuk memasuki bar dan melakukan perjalanan tandang semakin sulit akibat larangan dari otoritas setempat dan ancaman pendukung klub lawan. Sejak itu, produk sandang dari desainer terkemuka di Inggris seperti Burberry, Stone Island, CP Company, Sergio Tacchini, Fila, Trainers Adidas Originals, Ellesse, Scott & Lyle menjadi pilihan alternatif pengganti jersey dan merchandise klub yang dinilai terlalu berbahaya untuk dipakai, disamping itu infiltrasi ke kelompok saingan pun semakin mudah dilakukan.

Lalu bagaimana dengan kultur skinhead dan hooliganisme? Banyak orang yang mengidentikan casuals dengan kultur skinhead dan hooligan, kultur casuals memiliki keterkaitan dengan kultur skinhead, karena pada awal kemunculannya kultur ini kaum skinhead lah yang memilih berpakaian tanpa warna klub di stadion, mereka memilih menggunakan boots martens dan perry kebanggaan mereka di tribun namun pada saat itu otoritas disana mengidentikan skinhead dengan perusuh sepakbola. hingga ada penitipan paksa boots sebelum masuk ke tribun stadion, karena tahu sendiri akibatnya jika sol Martens mendarat di wajah. Sehingga penampilan sporty ala petenis kondang saat itu menjadi pilihan cerdas, casuals sendiri menyatukan banyak subkultur dalam kultur sepakbola. Berbagai genre musik dari post punk, oi!, new wave, hardcore hingga britpop identik dengan kultur Casuals.

Lalu apa hubungannya dengan hooliganisme? Hmmmà sebenarnya saya menghindari term hooligan dalam bahasan ini, karena hooligan adalah term yang diciptakan media untuk perilaku yang buruk dalam kultur pendukung sepakbola seperti perkelahian antar pendukung sepakbola, pengrusakan fasilitas umum, dll., beberapa Casuals memang mempraktikan hooliganisme dalam aktivitasnya, oleh karena itu saya sangat menghindari term hooligan di ranah ini.

Kultur Casuals masuk ke ranah budaya pop saat sineas tertarik untuk mengangkatnya pada layar lebar, sebt saja The Firm 1984, I.D, Cass, The Rise of Footsoldier, Green Street I & II, Football Factory, Awaydays dan The Firm 2009 dan beberapa judul lainnya. Diantara banyak film tersebut, menurut saya The Firm dan Awaydays lah yang paling mendekati kultur Casuals, dimana unsur
fesyen sebagai bagian dari kultur Casuals sangat ditonjolkan oleh sang pembuat film.[img]http://cdn.kaskus.com/images/2013/10
/09/5956868_20131009080420.jpg[/img]
FCC as local casuals

Lalu apa itu FCC? FCC merupakan kependekan dari Flowers City Casuals, yang maknanya kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya inggris, hoby bergaya dengan brand eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.

Dimanakah FCC bisa ditemui? Oya, kami selalu berada di sisi utara Stadion Siliwangi di setiap laga tandang, jangan berharap mendapatkan koreografi yang indah disini, apa lagi berharap bisa bernyanyi bersama chants ôUwa û Eweö atau ô******Bonek sama Sajaö, karena kami tidak seperti itu, kami berbeda dengan pendukung militan dari bagian timur pulau jawa tersebut, tak ada panglima, tak ada koreografi, mungkin hanya flare terbakar, chants dan caci-maki terhadap klub lawan yang akan didapatkan disini.

Diluar tribun, kami bisa ditemui pada waktu-waktu tertentu, seringkali pada siaran langsung laga tandang Persib Bandung ataupun bigmatch Premier League berlangsung, di kedai seputaran kota Bandung yang menjual bir dengan harga yang tidak terlalu mahal dan menyiarkan tayangan langsung sepakbola, selain PERSIB, obrolan tentang items casuals pun menjadi perbincangan seru diantara kami, info tentang lapak Trainers Adidas Originals ataupun secondhand jaket Sergio Tacchini, Fila, Slazenger menjadi tema penting. beberapa diantara kami adalah penganut taat paham Straight Edge, dan kami respek dengan itu semua.

Ada hal-hal yang sangat dibenci oleh FCC di tribun Stadion, memakai jersey atau merchandise klub yang tidak ada hubungannya dengan pertandingan saat itu, apalagi ditambah dengan tidak menggunakan alas kaki (karena kami menganggap setiap laga Persib adalah seremonial suci yang harus sangat dihargai, bayangkan saja kamu datang ke pesta perkimpoian tanpa alas kaki) dan menyanyikan lagu persahabatan antara dua grup pendukung sepakbola dengan embel-embel ôSatu Hatiö WTF! Dan satu lagi, membawa gitar ukulele di tribun, Tai Suci! (maksudnya Holyshit) Apa lagi itu! siapapun bisa menjadi bagian FCC, tentunya mencintai Persib dan kultur Casuals. Bersikap Casuals dan mari bergabung bersama kami disini, di tribun utara!

SEJARAH BOMBER PERSIB

Bomber atau Bobotoh Maung Bandung Bersatu mulai dirintis sejak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan bobotoh telah menyatakan sikap untuk berafiliasi dan akhirnya mendeklarasikan bomber di hotel SANTIKA Bandung pada tanggal 3 agustus 2001. Dalam berdemokrasi bomber membebaskan perkumpulan yang berada dalam pondasi bomber untuk tetap memakai atribut kebesaran mereka masing-masing namun jika sudah berada dilapangan merekapun sepakat hanya akan mengibarkan bendera bomber.
     Dalam perjalananya bomber sudah mengalami empat kali pergantian ketua umum yaitu Asep S Abdul, Arip Maulana Yusuf, Arief Maulana DJ, dan pada tahun 2007 kembali diketuai oleh Asep S Abdul hingga sekarang. Pada tahun 2006 bomber sempat meleburkan diri bersama Viking Persib Club dan menjadi distrik viking terbesar dengan nama Viking The Bomberman namun hanya jelang satu tahun pada tahun 2007 bomber kembali mencoba mandiri dan menjadi organisasi yang independent dengan nama The Bomber.
      The Bomber mempunyai tujuan untuk mendukung Persib Bandung dalam semua lingkup kegiatannya, mendukung timnas Indonesia dalam kancah persepakbolaan Nasional dan Internasional, bomber juga berkomitmen untuk membangun supporter sepakbola yang kritis,kreatif,tertib,santun,cerdas dan bertanggung jawab demi persib.
      Dalam kepengurusan bomber (the bomber) tingkat tertinggi adalah MABES PUSAT yang membawahi kepengurusan MABES KOTA/KAB. untuk tingkat kota/kab.,RAYON untuk tingkat Kecamatan, dan RANTING untuk tingkat kelurahan yang berlaku diseluruh daerah di Indonesia dan diawasi langsung oleh Dewan pembina, Dewan penasehat, dan Dewan pelindung bomber.

Biodata
Nama                  : BOMBER (THE BOMBER) bobotoh maung bandung bersatu
Berdiri                 : 3 Agustus 2001
Ketua Umum       : Asep S Abdul (masa bhakti 2010-2015)
Jumlah Anggota   : 27.000 orang
Motto                 : "Menjadi bobotoh santun dan cerdas"
Lambang             : Tengkorak maung bertopi tanduk kerucut
Tribun                 : Selatan

Legalitas Bomber
1. AKTA NOTARIS / PPTA : Akta pendirian bomber  : No.02 Tgl 07 Oktober 2010
2. SURAT KETERANGAN TERDAFTAR : Badan kesatuan bangsa, perlindungan dan pemberdayaan  masyarakat kota Bandung : No : 142 / BKPPM / 2010
3. Berdasarkan UUD No. 40 Tahun 1999.

SEJARAH VIKING PERSIB CLUB

Periode 1993-1998
Bermula saat sekelompok bobotoh fanatik PERSIB yang biasa“menghuni” tribun selatan mencetuskan ide untuk menjawab totalitas “sang idola” PERSIB Bandung di lapangan dengan sebuah totalitas dalam memberi dukungan, maka setelah melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama VIKING PERSIB CLUB.. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk. Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia I — tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Viking dimasa ini masihlah sangat tradisional dan belum menunjukkan geliat sebagai sebuah organisasi yang utuh secara profesional, bahkan pada awalnya mereka tidak mempunyai homebase dan menjadikan halaman sekretariat PERSIB di Jalan gurame sebagai tempat berkumpul. Seiring waktu kehadiran mereka yang merajai tribun selatan pun mulai dikenal dan diakrabi bobotoh, banyak pula yang berminat untuk menjadi bagian dari Viking, pendaftaran anggota pun mulai dibuka lebar.
Periode 1999-2004
Diperiode ini, Viking mengalami penambahan anggota yang cukup signifikan, bahkan karena saking banyaknya anggota maka para pimpinan Viking pun merasa bahwa tribun selatan sudah tak mampu lagi menampung jumlah anggota yang rutin menyaksikan pertandingan PERSIB secara langsung di Siliwangi, akhirnya tribun timur pun menjadi pilihan, terhitung sejak liga Indonesia VI, Viking mulai “hijrah” ke tribun timur dan menunjukkan eksistensi serta dukungan dari tribun dengan “view” yang lebih nyaman dan kapasatitas tempat duduk lebih besar.
Diperiode ini pulalah, tepatnya medio 2002-2003, Viking mengalami sebuah momentum penting saat Yudi Baduy sang sekretaris umum mulai sibuk dengan rutinitas dan pekerjaannya sehingga Viking membutuhkan darah segar untuk tetap menjaga dinamika roda organisasi, dan masuklah Budhi Bram, keterlibatannya bersama Viking dimulai saat yang bersangkutan menggarap album Kompilasi yang pertama. Seiring waktu, akhirnya Budhi Bram resmi menjabat sebagai sekretaris umum Viking yang baru.
Pada masa ini pulalah Viking yang tetap di pimpin oleh dwitunggal Herru Joko sang ketua umum dan Sang Panglima,Ayi Beutik mulai tumbuh sebagai organisasi yang sesungguhnya, seluruh potensi organisasi pun terus dioptimalkan untuk mendatangkan manfaat bagi PERSIB dan Viking sendiri. Viking dengan jumlah anggotanya yang mencapai ribuan orang mulai dilirik oleh berbagai perusahaan dan menjalin beberapa kerjasama dalam event-event besar. Tercatat berbagai perusahaan, mulai dari rokok, selular hingga clothing pernah menjalin kerjasama dengan Viking Persib Club.
lama kelamaan aksi Viking tak hanya sekedar bersorak di stadion, namun aktivitasnya mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti bakti sosial, sunatan masal, kompetisi-kompetisi kreatif dll. Dimasa ini pulalah Viking mulai menjalin simpul-simpul signifikan dengan pihak-pihak yang strategis, seperti walikota Bandung dll.
Periode 2005-2009
Dimasa ini Viking semakin mapan dan dewasa, bahkan sisi komersil pun mulai teroptimalkan secara elegan. Lihat saja kelahiran Viking Persib fanshop yang bergerak dibisnis properti supporter, ataupun album digital dan bisnis RBT serta website resmi http://www.vikingpersib-club.com yang digarap oleh Viking, semakin menunjukkan ke-profesionalan organisasi ini. Jangan lupakan pula kehadiran PERSIB magz yang fenomenal dan sempat mewarnai dunia media soporter ditanah air dan berganti nama menjadi majalah
Idealisme Viking Persib Club
Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut.
Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.
Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yang tulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng”
Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan. Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB.
Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadi berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang.
Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club
Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima — Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada PERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.
Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini.

BOBOTOH PERSIB YOGYAKARTA KOTA


BOBOTOH PERSIB WONOSARI YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB WATES YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB SLEMAN YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB KULON PROGO YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB GUNUNG KIDUL YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB BANTUL YOGYAKARTA


BOBOTOH PERSIB TASIKMALAYA JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB SUMEDANG JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB SUKABUMI JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB SUBANG JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB PURWAKARTA JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB PANGANDARAN JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB MAJALENGKA JAWA BARAT


BOBOTOH PERSIB KUNINGAN JAWA BARAT


IDIK M S

IDIK M S

Partisipasi Publik

Anda bisa ikut berpartisipasi dalam memberikan sebuah opini, informasi, data yang bisa di download atau apapun itu, dengan mengirimkan melalui E-Mail idikms@gmail.com dengan format:
1. Nama Pengirim
2. Judul Bahan
3. Masukkan alamat Blog yang hendak menampilkan data anda
Sebagai contoh :
Nama Pengirim = Idik Saeful Bahri
Judul Bahan = DOWNLOAD E-BOOK MAHASISWA
Alamat Blog = idikms.blogspot.com, 3kuningan.blogspot.com, dan viking-bobotoh-persib.blogspot.com

IDIK SAEFUL BAHRI

IDIK SAEFUL BAHRI